Sidrap, Katasulsel.com — Ada kisah sejarah yang terasa seperti plot film.

Seorang komandan menunjukkan jalan kepada rombongan militer menuju markas seorang tokoh yang saat itu masih berada dalam satu jaringan perjuangan.

Beberapa tahun kemudian, orang yang sama justru memimpin pasukan untuk berhadapan dengan tokoh tersebut.

Itulah salah satu sisi menarik perjalanan Usman Balo.

Namanya mungkin tidak setenar Kahar Muzakkar dalam cerita sejarah Sulawesi Selatan.

Tetapi jejaknya membawa kita dari Karrang, menuju Baraka di Enrekang, lalu kembali lagi ke medan konflik di Sidrap.

Ceritanya bermula sekitar 1952.

Saat itu Usman Balo masih berada dalam jaringan kekuatan Abdul Kahar Muzakkar.

Ia bahkan menjadi penunjuk jalan bagi rombongan Letnan Kolonel J.F. Warouw, Kepala Staf TT VII/Wirabuana, yang hendak menemui Kahar Muzakkar di Baraka, Enrekang.

Rombongan Warouw tidak bisa begitu saja melintas.

Mereka terlebih dahulu singgah di markas Usman Balo di Karrang.

Setelah mendapatkan izin, perjalanan dilanjutkan.

Dan Usman Balo menjadi orang yang menunjukkan jalan menuju markas Kahar Muzakkar.

Catatan penelitian Universitas Negeri Makassar dalam Jurnal Pattingalloang menyebut Usman Balo sebagai satu-satunya penunjuk jalan menuju markas Kahar Muzakkar di Baraka.

Bayangkan suasananya.

Jalan pegunungan.

Wilayah operasi yang tidak bisa dilewati sembarang orang.

Rombongan militer membutuhkan seseorang yang benar-benar mengetahui medan.

Dan orang itu adalah Usman Balo.

Saat itu, ia masih berada dalam barisan yang sama.

Usman Balo merupakan salah satu komandan bawahan Kahar Muzakkar. Bersama Hamid Gali, ia beroperasi di kawasan Latimojong.

Baraka sendiri kemudian menjadi salah satu basis penting gerakan Kahar Muzakkar.

Pegunungan menjadi benteng alami.

Jalur-jalur sulit menjadi perlindungan.

Dan medan seperti itu sangat cocok bagi perang gerilya.

Tetapi sejarah tidak selalu berjalan lurus.

Beberapa tahun kemudian, hubungan Usman Balo dan Kahar Muzakkar berubah.

Bukan sekadar berbeda pendapat.

Barisan mereka pecah.

Usman Balo dan Hamid Gali memisahkan diri dari Kahar.

Kajian Barbara S. Harvey mencatat keduanya sempat menyatakan dukungan kepada pemerintahan Soekarno dan menyatakan kesediaan masuk ke dalam tentara Republik.

Usman bahkan mengambil posisi yang cukup tegas: menyimpang dari Kahar yang dianggap telah menyimpang dari prinsip perjuangan kemerdekaan, menurutnya, lebih baik daripada mengkhianati revolusi.

Di sinilah kisahnya mulai menjadi rumit.

Karena konflik tersebut tidak hanya berbicara soal siapa memimpin siapa.

Ada persoalan politik.

Ada pilihan arah perjuangan.

Ada pula persoalan ideologi.

Ketika Kahar Muzakkar kemudian secara terbuka menempuh jalur Darul Islam, Usman Balo mengambil posisi berbeda dan tetap menggunakan nama Tentara Kemerdekaan Rakyat atau TKR.

Harvey sendiri memberi catatan bahwa keterbatasan data membuat sulit memastikan seberapa konsisten dan terdefinisi gagasan komunisme Usman Balo, serta sejauh mana perbedaan ideologi itu menjadi penyebab atau justru akibat dari konflik antara Usman dan Kahar.

Jadi, sejarahnya tidak sesederhana:

“Yang satu benar, yang satu salah.”

Justru di situlah menariknya.

Dua orang yang pernah berada dalam satu jaringan perjuangan ternyata kemudian mengambil jalan berbeda.

Bahkan nama pasukan pun berbeda.

Agustus 1953, Kahar Muzakkar mengubah nama kekuatannya menjadi Tentara Islam Indonesia.

Usman Balo dan Hamid Gali tetap bergerak dengan nama Tentara Kemerdekaan Rakyat.

Dari sinilah perbedaan yang sebelumnya berada di tingkat kepemimpinan dan pilihan politik kemudian masuk ke medan tempur.

Sidrap menjadi salah satu panggungnya.

Penelitian Universitas Negeri Makassar mencatat pasukan Usman Balo sebagai kekuatan TKR yang berhadapan dengan DI/TII.

Desember 1953, pertempuran terjadi di Tanru Tedong.

Bentrok kemudian berlanjut hingga kawasan Sungai Bulu Cenrana di Barukku.

Tidak berhenti di situ.

Benteng Rappang ikut menjadi bagian dari rangkaian konflik.

Memasuki 1954, kekuatan TKR pimpinan Usman Balo semakin berkembang di wilayah Sidrap hingga Enrekang.

Usman memimpin salah satu sektor Latimojong yang membawahi sejumlah batalyon dan kompi.

Dan di titik inilah sejarah seperti memutar kembali sebuah adegan lama.

Pada 1952, Usman Balo menunjukkan jalan menuju Baraka.

Jalan itu mengantar rombongan menuju markas Kahar Muzakkar.

Beberapa tahun kemudian, orang yang pernah menunjukkan jalan tersebut sudah berada di sisi yang berseberangan.

Bukan lagi menjadi penunjuk jalan menuju markas Kahar.

Tetapi memimpin pasukan yang berhadapan dengan kekuatan Kahar.

Ironis?

Mungkin.

Tetapi sejarah memang sering bekerja seperti itu.

Kawan seperjalanan bisa menjadi lawan.

Satu perjuangan bisa melahirkan banyak tafsir.

Dan satu medan perang bisa mempertemukan orang-orang yang sebelumnya pernah berada di barisan yang sama.

Pada akhirnya, Usman Balo menyerah kepada pemerintah pada 1956.

Perjalanan panjang itu pun memasuki babak baru.

Dari Karrang menuju Baraka.

Dari satu barisan menuju barisan yang berseberangan.

Dari penunjuk jalan menjadi komandan yang berhadapan dengan kekuatan yang dahulu berada di jaringan yang sama.

Kisah Usman Balo mengingatkan kita pada satu hal penting ketika membaca sejarah pergolakan Sulawesi Selatan:

Perang tidak selalu sesederhana pemerintah melawan pemberontak.

Di dalam sebuah gerakan, bisa terjadi perpecahan.

Di dalam satu barisan, bisa muncul perbedaan arah.

Dan di antara orang-orang yang pernah berjalan bersama, sejarah kadang memaksa mereka mengambil jalan yang berlawanan.

Itulah sebabnya kisah Usman Balo menarik untuk dibaca kembali.

Bukan semata karena siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Tetapi karena sebelum menjadi lawan, mereka pernah menjadi bagian dari cerita yang sama.

Dan salah satu buktinya sederhana:

Pernah ada masa ketika Usman Balo justru menjadi orang yang menunjukkan jalan menuju markas Kahar Muzakkar di Baraka.

Beberapa tahun kemudian, jalan sejarah mereka berubah arah. (*)