Makassar, katasulsel.com — Kekalahan 0-3 dari Arema FC sebenarnya cukup untuk membuat suporter PSM Makassar gelisah. Malam terasa panjang. Timeline ramai. Nada pesimis mulai terdengar.
Tapi sepak bola kadang punya cara sendiri untuk menyelamatkan sebuah klub.
Saat Pasukan Ramang tumbang, kabar dari pertandingan lain justru datang seperti “oksigen tambahan”. Hasil imbang 0-0 antara Persis Solo melawan Persebaya Surabaya memastikan PSM tetap bertahan di Super League musim 2026/2027.
Ironisnya, tiket keselamatan itu bukan diraih lewat kemenangan heroik. Bukan pula lewat pesta gol. PSM selamat justru ketika mereka kalah.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Begitulah musim ini berjalan untuk Juku Eja: penuh turbulensi, sesak napas, dan jauh dari wajah angker yang dulu pernah menakutkan lawan.
Secara matematis, Persis memang masih bisa menyamai poin PSM yang kini mengoleksi 34 angka. Tetapi regulasi head-to-head membuat klub asal Makassar itu tetap aman dari jurang degradasi.
Dan di situlah suporter akhirnya bisa menarik napas panjang.
Namun, keselamatan ini rupanya belum benar-benar menghadirkan ketenangan.
Sebab setelah ancaman degradasi berlalu, satu persoalan besar kini berdiri di depan mata: siapa pelatih PSM musim depan?
Pertanyaan itu mulai terdengar makin nyaring di kalangan suporter. Sebab sudah hampir dua bulan terakhir PSM seperti berjalan tanpa nahkoda utama.
Nama Tomas Trucha praktis menghilang dari bench sejak kekalahan 2-4 atas Persita Tangerang pada awal Maret lalu.
Sejak saat itu, tim ditangani caretaker Ahmad Amiruddin.
Situasi ini menciptakan kesan yang cukup janggal: klub sebesar PSM menjalani fase kritis kompetisi tanpa kejelasan penuh di kursi pelatih kepala.
Di sinilah keresahan publik sepak bola Makassar bermula.
Karena bagi suporter PSM, persoalannya bukan sekadar bertahan di liga. Klub ini punya sejarah besar. Punya ekspektasi tinggi. Punya DNA juara.
Mereka pernah menikmati era Robert Rene Alberts. Pernah merasakan sentuhan Bojan Hodak. Dan tentu saja pernah berpesta bersama Bernardo Tavares yang membawa PSM kembali mencicipi gelar juara.
Selanjutnya….
Karena itu, musim ini terasa seperti “musim asing” bagi publik Mattoanging.
PSM tidak lagi tampil garang. Tidak lagi stabil. Bahkan di beberapa pertandingan, mereka terlihat seperti tim yang kehilangan arah.
Kini manajemen dihadapkan pada momentum penting: melakukan reset besar-besaran atau kembali terseret dalam musim yang penuh tambal sulam.
Jika melihat pola satu dekade terakhir, peluang menghadirkan pelatih asing kembali terbuka lebar. Sejak era Assegaf Razak pada 2015, PSM memang lebih sering mempercayakan proyek tim kepada pelatih luar negeri.
Dan publik mulai bertanya: siapa berikutnya?
Apakah manajemen akan mencari sosok keras seperti Bernardo Tavares? Atau pelatih dengan pendekatan taktik modern untuk membangun ulang identitas permainan PSM?
Yang jelas, musim depan bukan sekadar soal bertahan hidup.
Ini soal mengembalikan marwah.
Sebab bagi PSM, bertahan di liga mungkin cukup secara administratif. Tapi bagi suporternya, Juku Eja seharusnya tidak hidup hanya untuk selamat dari degradasi. (*)
Update terbaru: 12 Mei 2026 16:12 WIB
