Syaharuddin memilih hadir. Menghabiskan sebagian besar waktunya di lapangan, menyerap aspirasi tanpa sekat protokoler yang kaku.

Dari 11 kecamatan, ia membaca langsung kebutuhan. Dari percakapan warga, ia merumuskan kebijakan.

Pendekatan ini menjadikan pembangunan terasa lebih personal—lebih dekat, lebih nyata.

Sejumlah program prioritas pun berjalan dalam satu orkestrasi: layanan kesehatan gratis, penguatan pendidikan, distribusi pupuk yang lebih terjaga, listrik masuk sawah, pengembangan UMKM, hingga ruang bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai wirausaha.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Semua dirajut dalam satu visi: Sidrap yang berdaya dan bermartabat.

Namun Syaharuddin memahami, setahun pertama adalah tentang membangun fondasi.

Puncaknya belum di sini.

Ia menatap ujung masa jabatan sebagai titik pembuktian—ketika kesejahteraan tidak lagi menjadi janji, tetapi realitas yang merata.

“Pada akhirnya, yang ingin kita lihat adalah masyarakat yang benar-benar merasakan perubahan,” ucapnya.

Sidrap hari ini sedang menulis bab baru.

Bukan dengan gegap gempita, tetapi dengan kerja yang perlahan menguat.

Sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya tumbuh—tetapi juga mengangkat martabat.(*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Update terbaru: 30 Maret 2026 00:52 WIB