Sidrap, katasulsel.com — Di Sidrap, kunci itu tidak berisik.

Tidak berkilau. Tidak besar. Tidak juga mahal.

Tapi justru karena itu, ia terasa lebih “hidup” dibanding banyak seremoni yang biasanya penuh kamera.

Rabu (6/5/2026), di Dusun Bulo Tengnga, Desa Bulo Watang, Kecamatan Panca Rijang, sebuah kunci berpindah tangan. Dari seorang bupati ke seorang perempuan tua bernama Susina Idawa.

Yang menerima tidak langsung tersenyum lebar. Ia diam sebentar. Seperti memastikan bahwa ini benar-benar terjadi, bukan mimpi yang keburu hilang saat mata berkedip.

Rumahnya sudah berubah.

Dulu, rumah itu seperti sedang menunggu giliran roboh. Dindingnya tidak pernah benar-benar tegak dengan percaya diri. Atapnya lebih sering jadi kekhawatiran daripada pelindung. Hujan bukan sekadar air, tapi juga ancaman kecil yang datang berkali-kali.

Hari itu, rumah itu sudah tidak sama lagi.

Ia sudah masuk kategori Rumah Tinggal Layak Huni (RTLH), hasil kerja sama pemerintah Kabupaten Sidrap dengan Baznas.

Yang menyerahkan kunci adalah Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif.

Tidak ada pidato panjang. Tidak ada kalimat yang berusaha terdengar megah.

Hanya satu hal yang sederhana tapi keras maknanya: bahwa tidak boleh lagi ada warga yang tinggal di rumah yang tidak layak.

Kalimat seperti itu biasanya mudah diucapkan di panggung. Tapi di lapangan, ia berubah jadi beban yang harus dibuktikan.

Di sisi lain, Kepala Desa Bulo Watang, Andi Wawan, tampak lebih banyak mengangguk daripada berbicara panjang. Ia menyebut bantuan ini tepat sasaran. Tapi kata “tepat sasaran” di desa seperti ini tidak terdengar seperti istilah birokrasi. Ia terdengar seperti rasa lega yang tidak perlu dijelaskan lagi.

Karena semua orang di sana tahu siapa yang dulu hidup di rumah itu.

Ketua Baznas Sidrap, H Mustari, ikut menjelaskan bahwa rumah ini bukan sekadar bangunan. Tapi hasil dari zakat yang “berpindah bentuk”—dari angka menjadi dinding, dari laporan menjadi pintu, dari kewajiban menjadi tempat berteduh.

Bahasa formalnya mungkin: pemberdayaan mustahik.

Bahasa lapangannya: orang yang tadinya hidup susah, sekarang bisa tidur tanpa takut hujan bocor di kepala.

Susina sendiri tidak banyak bicara. Tapi matanya cukup jelas. Ada sesuatu yang pelan-pelan runtuh di dalam dirinya—bukan rumahnya, tapi beban lamanya.

Di desa, orang seperti Susina tidak butuh banyak teori pembangunan. Mereka tidak bertanya tentang program. Mereka hanya ingin satu hal yang sangat sederhana: malam yang tenang.

Seorang warga yang ikut melihat kejadian itu hanya berkata pelan, hampir seperti ngomong ke tanah, “Dulu kalau hujan, kami semua was-was. Sekarang sudah beda.”

Kalimat itu tidak masuk laporan. Tidak masuk berita resmi pemerintah.

Tapi justru di situlah biasanya kebenaran paling jujur tinggal.

Karena di luar angka-angka program, di luar laporan serapan, di luar nama kegiatan, ada satu hal yang tidak pernah berubah: manusia selalu mengingat rasa aman lebih lama daripada angka bantuan.

Hari itu, di Sidrap, sebuah kunci kecil tidak hanya membuka pintu rumah baru.

Ia juga membuka sedikit ruang lega di hidup seseorang yang sudah terlalu lama belajar bertahan.

Dan di tempat seperti itu, pembangunan tidak lagi terdengar sebagai kebijakan.

Ia terdengar seperti napas yang akhirnya bisa sedikit lebih panjang.(*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita