Dengan model ini, lahan yang sebelumnya hanya mampu dua kali tanam (IP200), kini didorong menjadi tiga kali tanam (IP300).
Secara teori agronomi, peningkatan indeks pertanaman seperti ini biasanya tidak sederhana. Risiko kelelahan lahan, kebutuhan air, hingga stabilitas harga menjadi tantangan besar.
Namun di Sidrap, pendekatan yang dilakukan cenderung agresif tetapi terukur.
Desa Lise dan angka 52.227 hektare Sidrap
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Desa Lise sendiri memiliki sekitar 800 hektare lahan sawah produktif.
Sementara Kecamatan Panca Lautang mencatat sekitar 5.340 hektare.
Dan jika ditarik lebih luas, Kabupaten Sidrap memiliki total sekitar 52.227 hektare lahan persawahan.
Angka ini penting, karena dalam skala produksi pangan nasional, Sidrap bukan lagi sekadar daerah penyangga lokal, tetapi bagian dari rantai pasok strategis.
Dengan IP300, potensi produksi otomatis meningkat signifikan.
Jika satu hektare saja bisa menghasilkan sekitar 9 ton gabah, maka dalam satu siklus tanam, Sidrap berpotensi menghasilkan ratusan ribu ton gabah per musim.
Mulai dilirik daerah lain
Dalam beberapa diskusi sektor pertanian di Sulawesi hingga luar kawasan timur Indonesia, model IP300 Sidrap mulai sering disebut sebagai “studi kasus baru”.
Sejumlah daerah dikabarkan mulai melakukan kunjungan pembelajaran (studi banding) ke Sidrap untuk melihat langsung bagaimana pola tiga kali tanam bisa berjalan di lapangan.
Yang menjadi perhatian bukan hanya soal teknis tanam, tetapi bagaimana pemerintah daerah mengorkestrasi seluruh ekosistem pertanian:
dari air, pupuk, harga gabah, hingga pola pendampingan petani.
Di banyak daerah, pola IP300 masih dianggap terlalu ambisius.
Namun Sidrap justru menjadikannya sebagai target kerja, bukan sekadar wacana.
Dimensi ekonomi: angka yang mulai berubah
Jika menggunakan simulasi sederhana, dampak IP300 terhadap pendapatan petani menjadi sangat signifikan.
Dengan asumsi produksi 9–10 ton per hektare per musim dan harga gabah yang relatif stabil, pendapatan petani meningkat berkali lipat dibanding pola IP200.
Namun yang lebih penting dari sekadar angka pendapatan adalah stabilitas.
Baca lagi ya…
Update terbaru: 18 Mei 2026 20:48 WIB
