Sidrap, Katasulsel.com β€” Ada satu pemandangan yang mulai sering terlihat di beberapa desa dan sekolah di Sidrap belakangan ini. Perpustakaan yang dulu identik sepi dan terkunci, sekarang perlahan mulai ramai lagi.

Anak-anak datang bukan cuma cari buku pelajaran. Ada yang numpang baca sambil diskusi tugas, ada juga yang sekadar cari tempat tenang belajar setelah pulang sekolah. Perubahan kecil itu kini ikut membawa Kabupaten Sidenreng Rappang meraih dua penghargaan sekaligus di bidang literasi tingkat Sulawesi Selatan.

Penghargaan itu diterima Pemkab Sidrap pada peringatan HUT Perpustakaan Nasional ke-46, Hari Kearsipan ke-55, dan Hari Buku Nasional di Makassar, Senin (18/5/2026).

Sidrap berhasil masuk kategori Tertinggi III Tingkat Kegemaran Membaca se-Sulsel tahun 2025. Selain itu, Sidrap juga mendapat penghargaan sebagai kabupaten dengan partisipasi lembaga terbanyak dalam pengajuan akreditasi perpustakaan.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Kalau dilihat sekilas, penghargaan ini memang soal angka dan penilaian. Tapi di lapangan, yang mulai terasa justru perubahan kebiasaan masyarakat.

β€œSekarang perpustakaan tidak bisa lagi cuma jadi tempat simpan buku,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sidrap, Suharya Angriani.

Menurutnya, banyak perpustakaan di Sidrap mulai diarahkan jadi ruang aktivitas warga. Tidak harus selalu formal, yang penting masyarakat merasa nyaman datang.

Makanya, beberapa perpustakaan sekolah dan desa mulai dibenahi. Ada yang bikin ruang baca lebih santai, ada yang tambah fasilitas internet, bahkan ada yang mulai aktif bikin kegiatan supaya anak-anak tertarik datang.

Perubahan itu disebut pelan-pelan mulai berdampak. Minat baca masyarakat memang belum bisa langsung tinggi drastis, tapi kebiasaan untuk datang ke perpustakaan mulai tumbuh lagi.

β€œSekarang tantangannya beda. Kita bersaing dengan HP dan media sosial. Jadi kalau perpustakaan tidak ikut berubah, pasti ditinggalkan,” ujarnya.

Hal lain yang dianggap penting adalah makin banyaknya lembaga di Sidrap yang ikut proses akreditasi perpustakaan. Ini menunjukkan sekolah dan desa mulai sadar kalau perpustakaan bukan sekadar pelengkap bangunan pendidikan.

Akreditasi sendiri menyangkut banyak hal, mulai dari kualitas buku, tata kelola, pelayanan, sampai aktivitas literasi yang dijalankan.

Di acara penghargaan itu, Suharya menerima langsung penghargaan dari Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Prof Muhammad Jufri. Ia didampingi Andi Sammang dan Abdul Muis dari jajaran Dinas Perpustakaan Sidrap.

Menurut Suharya, capaian tersebut juga tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan masyarakat.

Meski begitu, ia mengakui tantangan terbesar ke depan bukan soal penghargaan, melainkan menjaga supaya budaya membaca tidak berhenti sebagai program sesaat.

β€œYang sulit itu mempertahankan kebiasaan membaca di tengah zaman serba cepat sekarang,” katanya.

Di Sidrap, perubahan itu mungkin belum besar. Tapi setidaknya, di tengah kebiasaan masyarakat yang makin sibuk dengan layar ponsel, masih ada ruang-ruang kecil yang perlahan kembali diisi suara halaman buku dibuka.(*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Update terbaru: 18 Mei 2026 14:17 WIB