Sidrap, katasulsel.com β Di Sidrap, cara orang berkurban pelan-pelan mulai berubah. Kalau dulu masyarakat datang langsung lihat sapi atau kambing di pasar, sekarang sudah banyak yang cukup lewat HP saja, transfer, lalu dapat laporan hewan sudah dipotong. Fenomena ini makin terasa terutama di kalangan anak muda.
Ketua MUI Sidrap, Dr. KH. Abdul Malik Tibe, S.H.I, M.A, saat diwawancarai katasulsel.com, Senin (18/5/2026), menilai hal ini wajar saja di zaman sekarang. Menurutnya, teknologi memang memudahkan orang beribadah, termasuk kurban.
βKurang lebih begini mi, kurban online itu sebenarnya wakalah, kita kasih kuasa ke orang atau lembaga untuk belikan, potong, dan salurkan dagingnya. Jadi kalau syaratnya jelas, itu tetap sah,β jelasnya.
Tapi ia juga mengingatkan, jangan karena sudah serba online lalu semua dianggap otomatis beres. Ada beberapa hal yang harus betul-betul diperhatikan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
βYang penting itu hewannya jelas, waktunya juga benar, akadnya ada, dan lembaganya amanah. Kalau ini tidak jelas, ya bisa bermasalah,β katanya.
Di Sidrap sendiri, MUI melihat anak muda sekarang memang mulai banyak yang pilih cara praktis. Tinggal buka aplikasi, pilih paket kurban, bayar, lalu tunggu laporan. Tidak perlu lagi repot ke kandang atau pasar hewan.
Menurut Abdul Malik, cara ini tidak salah, tapi jangan sampai makna kurban jadi hilang.
βJangan sampai kurban cuma jadi urusan transfer lalu selesai. Padahal ini ibadah, ada nilai pengorbanan di dalamnya. Bukan sekadar ikut-ikutan tren atau pamer di media sosial,β ujarnya.
Di lapangan, beberapa pedagang hewan kurban juga mulai merasakan perubahan pola ini. Ada yang bilang pembeli langsung memang masih ada, tapi sebagian sudah berkurang karena beralih ke sistem online atau patungan lewat grup.
Soal ini, MUI menilai dampaknya bisa dua arah. Di satu sisi memudahkan orang yang jauh atau sibuk, tapi di sisi lain bisa mengurangi interaksi langsung antara pembeli dan peternak lokal.
Karena itu, MUI Sidrap minta masyarakat lebih hati-hati kalau mau ikut kurban online. Jangan cuma lihat harga murah atau promosi menarik.
βPastikan jelas dulu. Hewannya seperti apa, dipotong di mana, siapa panitianya, dan bagaimana pembagiannya. Jangan sampai sudah bayar, tapi tidak tahu ujungnya ke mana,β tegasnya.
Update terbaru: 18 Mei 2026 13:10 WIB
