Sidrap, katasulsel.com – Persaingan Camat Paling Merakyat versi pembaca katasulsel.com per 25 April 2026 mulai memasuki fase yang bisa disebut “lap kritis”. Bukan balapan motor, tapi tensi perolehan suara terasa seperti duel di lintasan terakhir sebelum chequered flag.
Polling yang berlangsung sejak 3 April hingga 3 Juni 2026 ini masih bergerak dinamis. Sistem satu perangkat atau satu IP satu suara membuat setiap vote terasa seperti “lap time” yang benar-benar sah di race control digital.
Seperti di dunia balap, posisi terdepan atau pole position tidak menjamin kemenangan akhir. Namun tetap saja, posisi awal sering memberi keunggulan psikologis, seperti mendapatkan racing line ideal sejak start.
Hingga data terakhir, Tellu Limpoe yang dipimpin H. Ridwan Bachtiar, SE, M.Si berada di posisi “leader board” dengan 2360 suara atau sekitar 37 persen. Posisi ini ibarat pembalap yang sudah nyaman di depan, menjaga ritme tanpa terlalu banyak tekanan dari belakang.
Namun di dunia balap, jarak 37 persen bukanlah “gap aman” mutlak. Karena di belakangnya, Pitu Riase dengan Andi Mukti Ali, S.IP, M.Si terus menempel ketat dengan 1969 suara atau sekitar 31 persen. Ini bisa disebut sebagai “chasing pack” yang siap melakukan slipstream kapan saja.
Dalam istilah balap, kondisi ini seperti duel dua pembalap di straight panjang: satu memimpin, satu mengintai di belakang untuk mencari momentum overtake di tikungan berikutnya.
Sementara itu, Maritengngae yang dipimpin Firman, SE, M.M berada di posisi ketiga dengan 515 suara atau 8 persen. Di paddock balap, posisi ini sering disebut sebagai “midfield runner” yang masih punya peluang naik jika ada safety car moment dalam bentuk lonjakan dukungan tiba-tiba.
Di belakangnya, Pitu Riawa dengan 442 suara (7 persen) dan Panca Lautang dengan 202 suara (3 persen) menjaga ritme mereka di kelompok tengah. Dalam dunia balap, posisi ini sering jadi penentu strategi jangka panjang, apakah push agresif atau bermain konsisten.
Sementara Baranti, Panca Rijang, Watang Pulu, hingga Watang Sidenreng berada di lap-lap yang lebih berat dalam konteks polling ini. Namun dalam balapan panjang seperti ini, posisi awal bukan segalanya. Banyak race yang berubah total di dua lap terakhir karena strategi dan momentum.
Polling ini sendiri ditegaskan bukan survei ilmiah, melainkan partisipasi pembaca. Dalam istilah balap, ini seperti “fan voting grid” yang tidak mengikat race official, tapi sangat menentukan psikologi kompetisi di paddock.
Besambung…
Indikator yang digunakan juga cukup menarik: kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, serta dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal. Ini seperti telemetri penilaian pembalap—bukan hanya kecepatan, tapi juga konsistensi dan handling di berbagai kondisi.
Yang membuat polling ini terasa seperti race sungguhan adalah dinamika pergerakannya. Suara bisa naik seperti “late braking maneuver”, atau stagnan seperti motor yang kehilangan grip di tikungan panjang.
Dengan sistem satu IP satu suara, tidak ada ruang untuk “team order” atau strategi manipulasi. Semua berjalan seperti balapan bersih di lintasan basah: siapa kuat, dia bertahan.
Namun publik juga diingatkan bahwa polling ini bersifat partisipatif. Tidak ada kaitan langsung dengan penilaian resmi kinerja camat. Dalam istilah balap, ini seperti “exhibition race” — seru, panas, tapi bukan penentu gelar juara utama pemerintahan.
Meski begitu, tensi di lapangan digital tetap terasa. Nama-nama kecamatan mulai sering disebut, bukan sekadar wilayah administratif, tetapi seperti tim-tim balap yang sedang bersaing merebut simpati penonton.
Tellu Limpoe saat ini bisa disebut sedang berada di posisi “defending leader”. Pitu Riase tampil sebagai “aggressive chaser”. Dan sisanya menjadi bagian dari “midfield battle” yang selalu menarik karena bisa berubah kapan saja.
Di dunia balap, race belum selesai sampai garis finis dilewati. Dan di polling ini, garis finis masih jauh: 3 Juni 2026.
Artinya, masih banyak lap yang bisa mengubah segalanya. Slipstream, overtake, bahkan crash momentum suara masih sangat mungkin terjadi.
Untuk sementara, Sidrap sedang menyaksikan “race digital” yang unik: bukan mesin yang bertarung, tapi persepsi publik yang saling mengejar di lintasan suara.(*)
