MAKASSAR, Katasulsel.com — Suasana haru dan bangga menyelimuti Gedung Guru Jusuf Kalla, Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, Sabtu (13/6/2026). Puluhan santri dan santriwati SDIT Insantama Makassar tampil percaya diri memperlihatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di hadapan orang tua mereka dalam kegiatan Imtihan dan Khotmul Qur’an.

Momen tersebut bukan sekadar seremoni penamatan pembelajaran Al-Qur’an. Di balik lantunan ayat suci yang menggema di ruangan, tersimpan perjuangan panjang para siswa yang bertahun-tahun belajar mengenal huruf hijaiyah, memperbaiki makhraj, memahami tajwid, hingga akhirnya mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dengan baik.

Kegiatan itu dihadiri Ketua Yayasan Smart Insan Utama, Bahrul Ulum Ilham, Ph.D., Prof. Dr. Sutinah Made, Kepala Lembaga Qiraati Korcam Makassar Ustaz Sudarto, Kepala SDIT Insantama Makassar Asriyani, S.T., para guru, staf sekolah, serta ratusan orang tua santri.

Kepala Lembaga Qiraati SDIT Insantama Makassar, Ryan Tasman, menjelaskan bahwa Imtihan dan Khotmul Qur’an merupakan tahapan penting untuk mengukur hasil pembelajaran Al-Qur’an yang telah ditempuh para santri.

“Ini menjadi momentum evaluasi sekaligus rasa syukur atas perjalanan anak-anak dalam belajar membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an menggunakan metode Qiraati,” ujarnya.

Acara diawali dengan ujian terbuka atau imtihan. Para santri diuji kemampuan membaca Al-Qur’an, penguasaan ilmu tajwid, hingga materi gharib di hadapan penguji dan wali santri.

Yang menarik, para orang tua diberi kesempatan menguji langsung putra-putri mereka. Satu per satu tangan terangkat, melontarkan pertanyaan seputar tajwid, sambung ayat, doa harian hingga bacaan gharib. Para santri menjawab dengan lancar, membuat tepuk tangan dan rasa bangga memenuhi ruangan.

Kepala Lembaga Qiraati Korcam Makassar, Ustaz Sudarto, menjelaskan bahwa seluruh peserta yang mengikuti haflah tersebut telah melalui tahapan Imtihan Akhir Santri (Imtas).

Menurutnya, penilaian tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga mencakup delapan aspek penting, yakni fashahah, tartil, tajwid, gharib, hafalan surat pendek, doa harian, praktik wudhu, dan praktik salat.

“Melalui evaluasi akhir Qiraati, kita ingin membentuk generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga mampu menjalankan ibadah sehari-hari secara benar,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Smart Insan Utama, Bahrul Ulum Ilham, Ph.D., menegaskan bahwa Khotmul Qur’an memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar acara wisuda.

“Ini adalah bukti bahwa anak-anak kita telah menapaki jalan yang diajarkan Rasulullah SAW, yaitu mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, SDIT Insantama Makassar memilih metode Qiraati karena dinilai efektif dalam membentuk kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil sesuai kaidah tajwid yang benar.

Melalui metode tersebut, santri tidak hanya diajarkan membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami bacaan gharib dan musykilat, menghafal surat-surat pendek, doa harian, memahami tata cara salat, hingga mampu menulis huruf Arab dengan baik.

Di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan Al-Qur’an tetap memiliki tempat istimewa dalam membentuk karakter generasi muda. Bagi para orang tua yang hadir, hari itu bukan hanya tentang kelulusan anak-anak mereka, melainkan tentang lahirnya harapan baru agar Al-Qur’an senantiasa menjadi cahaya dalam kehidupan mereka di masa depan. (*)