Pinrang, katasulsel.com – Pagi di Desa Kaballangan, Kecamatan Duampanua, tampak berbeda beberapa pekan terakhir. Di atas hamparan lahan seluas 30 are, deretan bawang merah tumbuh rapi di antara bedeng-bedeng sederhana. Tak banyak yang menyangka, dari tanah desa inilah rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dibangun.
Program yang selama ini identik dengan dapur dan distribusi makanan, perlahan menjelma menjadi gerakan ekonomi baru bagi petani lokal.
Kolaborasi antara Satgas MBG Pinrang, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN), pemerintah desa, dan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini mulai menunjukkan hasil konkret. Panen perdana bawang merah berhasil menghasilkan 218 kilogram bawang merah grade A yang langsung diserap untuk kebutuhan dapur MBG.
Di balik angka itu, tersimpan sebuah perubahan penting: desa tidak lagi sekadar menjadi penerima program, tetapi mulai menjadi bagian dari rantai produksi pangan nasional.
Ketua Satgas MBG Pinrang, Andi Tjalo Kerrang, mengatakan ide membentuk kelompok tani bermula dari persoalan klasik yang dihadapi dapur MBG, yakni ketergantungan pasokan bahan baku dari luar daerah.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Kondisi tersebut membuat biaya distribusi meningkat dan kebutuhan pangan belum sepenuhnya mampu dipenuhi oleh petani lokal.
“Karena itu kami berpikir, kenapa tidak memberdayakan petani di sekitar dapur MBG agar kebutuhan pangan bisa dipenuhi dari desa sendiri,” ujarnya.
Gagasan tersebut kemudian disambut Koordinator Wilayah BGN Pinrang, Nining Angreani, bersama pemerintah Desa Kaballangan yang menyiapkan lahan sebagai lokasi pilot project pertanian bawang merah.
Program itu turut melibatkan mitra SPPG Duampanua Pekkabata 02 dan SPPG Watang Sawitto 05 sebagai penjamin serapan hasil panen.
Di lahan itulah, seorang petani bernama Anwar (56) dipercaya menjalankan penanaman perdana menggunakan 18 kilogram bibit bawang merah di tujuh bedeng sederhana.
“Awalnya saya tidak menyangka dipercaya menjalankan program ini. Karena ini bukan sekadar menanam, tapi bagian dari program besar pemerintah,” kata Anwar.
Keraguan itu perlahan berubah menjadi optimisme saat masa panen tiba.
Hasilnya bahkan melampaui perkiraan. Dari tujuh bedeng tersebut, lahan pertanian berhasil menghasilkan 218 kilogram bawang merah berkualitas baik dengan ukuran besar dan warna merah cerah.
“Alhamdulillah hasilnya sangat bagus. Ini membuktikan tanah di Pinrang sangat potensial,” ujarnya.
Menurut Anwar, keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan penuh Satgas MBG, Korwil BGN, dan mitra SPPG yang membantu mulai dari pengadaan bibit, pupuk, plastik mulsa hingga pembangunan sumur bor untuk kebutuhan irigasi.
Yang membuat para petani semakin bersemangat, seluruh hasil panen langsung dibeli oleh SPPG untuk kebutuhan dapur MBG.
Bagi petani kecil, kondisi itu menjadi angin segar karena mereka tidak lagi dipusingkan dengan persoalan pemasaran hasil panen.
“Biasanya petani khawatir soal pembeli. Tapi sekarang hasil panen langsung diserap. Bahkan permintaannya masih kurang,” tutur Anwar.
Korwil BGN Pinrang, Nining Angreani, menilai keberhasilan panen perdana tersebut menjadi fondasi awal pembangunan pertanian berbasis kebutuhan gizi masyarakat.
Ia menyebut model pertanian terintegrasi seperti ini akan terus dikembangkan agar kebutuhan MBG dapat dipenuhi langsung oleh petani lokal.
“Yang awalnya hanya tujuh bedeng, sekarang sudah bertambah menjadi 13 bedeng baru. Ini akan terus berkembang,” katanya.
Sementara itu, Ketua Satgas MBG Pinrang, Andi Tjalo Kerrang, memastikan pengembangan komoditas lain juga mulai disiapkan. Selain bawang merah, lahan pertanian nantinya akan ditanami kangkung, buncis, hingga semangka.
Menurutnya, program tersebut bukan sekadar soal pertanian, melainkan upaya membangun siklus ekonomi desa yang saling terhubung antara petani, dapur MBG, dan masyarakat.
“Kalau ini berkembang, maka petani punya pasar tetap, dapur MBG punya pasokan stabil, dan ekonomi desa ikut bergerak,” jelasnya.
Kini, di tengah semilir angin sawah Desa Kaballangan, tujuh bedeng bawang merah itu telah menjadi simbol tumbuhnya harapan baru. Bahwa dari desa kecil di Pinrang, ketahanan pangan nasional bisa mulai dibangun.sti dan berkelanjutan. (*)
