
Sebuah Kisah Nyata, Andi Fadel Berupaya ‘Melawan’ Narkoba
Andi Fadel Layona, 25 tahun, tak pernah menyangka hidupnya akan terhenti di persimpangan ini. Selasa pagi, 10 Desember 2024, ia melangkah ke Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar dengan satu tekad: meninggalkan masa lalunya yang kelam.
Oleh: Edy Basri (Pemred Katasulsel.com)
DI DEPAN pintu ruang rehabilitasi itu, pemandangan mengharukan membuat mata siapa pun yang melihatnya basah.

Andi Fadel bersujud di kaki ayahnya, Sabri. Ia memeluk erat kaki sang ayah, air matanya jatuh deras.
“Ayah, maafkan saya. Saya telah mengecewakan,” ujarnya dengan suara yang tersendat.
Sabri, pria paruh baya dengan mata yang memerah, hanya bisa mengangguk pelan. Ia menyentuh bahu anaknya dengan lembut dan berkata, “Ayah sudah memaafkanmu, Nak. Mulailah dari sini.”
Andi Fadel bukan sekadar pecandu yang menyesali nasibnya. Ia adalah contoh nyata bagaimana sebuah kesalahan bisa menjadi pelajaran besar.
Pemuda dari Desa Kalosi, Kecamatan Dua Pitue, Sidrap ini, pernah terperangkap dalam gelapnya dunia narkoba.
“Saya hancur, terlalu jauh tenggelam, lupa dengan segalanya, bahkan lupa diri saya sendiri,” katanya sebelum memasuki ruang rehabilitasi.
Namun, titik balik itu datang. Berkat dorongan keluarganya, terutama sang ayah, serta dukungan dari Kapolres Sidrap Dr. AKBP Fantry Taherong., S.H., S.I.K.,M.H dan Kasat Narkoba, IPTU Patria Pratama S.I.K melalui Kampung Bebas Narkoba “Mappadeceng”.

Sekadar gambaran, Kampung Bebas Narkoba “Mappadeceng” ini adalah sebuah organisasi ‘penolong’ bentukan khusus Sat Resnarkoba Polres Sidrap, ia berani mengambil langkah besar.
Bersambung…
Dengan difasilitasi AIPTU Hendra, SH, Sekretaris Kampung Bebas Narkoba, Andi Fadel melaporkan diri untuk direhabilitasi.
“Ini bukan tugas mudah, apa lagi partner saya Pak Lurah Bapak Iwan Darmawan, SE, lagi sakit, tidak sempat mengawal bersama. Tapi melihat tekadnya, saya yakin dia bisa berubah. Momen dia meminta maaf kepada ayahnya tadi adalah bukti bahwa masih ada cinta dan harapan yang besar dalam dirinya,” tukas AIPTU Hendra.
Tahapan demi tahapan dilalui oleh Andi Fadel di Balai Rehabilitasi BNN Baddoka Makassar. Dari spotcheck awal hingga screening urin, semuanya dilakukan dengan hati-hati oleh tim medis.
Kesimpulannya, ia memenuhi syarat untuk menjalani rehabilitasi intensif. “Kami siap mendukung setiap langkahnya,” ujar salah satu petugas medis di sana.
Bagi Sabri, keputusan anaknya untuk melapor dan menjalani rehabilitasi adalah kelegaan besar.
“Saya hanya ingin dia kembali menjadi Fadel yang dulu, anak yang penuh semangat,” katanya.
Sabri tak pernah lelah memberi dukungan, meski harus menghadapi berbagai stigma dari lingkungan sekitar. “Kami keluarga besar mendukungnya. Ini adalah perjuangan bersama.”
Kampung Bebas Narkoba “Mappadeceng” telah menjadi cahaya kecil di tengah gelapnya isu narkoba di Sidrap.
Bersambung….
AIPTU Hendra menyebut program ini sebagai upaya untuk memberikan harapan baru bagi para pemuda yang terjerat narkoba.
“Kami di sini bukan untuk menghukum, tapi untuk menyelamatkan,” tegasnya.
Momen Andi Fadel mencium kaki ayahnya menjadi simbol harapan yang kuat. Di Balai Rehabilitasi, ia memulai hari pertama dari perjuangan panjangnya.
Semua yang hadir pada hari itu, termasuk keluarganya dan tim pendamping, hanya bisa berharap bahwa Fadel akan pulang nanti sebagai pribadi yang baru.
Langkahnya mungkin dimulai dari kesalahan. Tapi hari itu, ia memilih untuk melangkah ke arah yang benar.
Dan di balik pintu ruang rehabilitasi, Andi Fadel menemukan kembali harapannya. Sebuah awal baru telah dimulai.(*)