
Parepare, katasulsel.com — Ada yang menarik, bahkan terkesan teatrikal, dari pergerakan politik di Bumi Ajatappareng belakangan ini.
Dua kepala daerah—Wali Kota Parepare Tasming Hamid dan Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif—secara bersamaan menggelar “karpet merah” untuk seorang figur muda yang belakangan kian menyita perhatian nasional: Sekjen Partai Perindo, Andi Yuslim Patawari (AYP).
Kehadiran AYP ke wilayah ini bukan sekadar kunjungan biasa. Bukan pula safari politik dalam makna sempit.
Tapi lebih menyerupai “reuni strategis” antara tiga sahabat lama, yang pernah tumbuh bersama dalam rahim organisasi pemuda bernama KNPI.
Kini mereka bertiga berdiri di titik berbeda: satu di level pusat, dua di level daerah. Tapi chemistry mereka tak luntur. Yang berubah cuma peran dan posisi.

Jadi, siapa yang undang siapa? Jawabannya: Tak ada undangan resmi. Yang ada adalah kekuatan jejaring emosional.
Di dunia politik, ini disebut sebagai diplomasi pertemanan—konsep lunak yang kadang lebih efektif dari sekadar negosiasi formal.
Syahar dan Tasming, dua kepala daerah yang sedang sibuk-sibuknya membangun konsolidasi pemerintahan, dengan ringan hati mengosongkan jadwal untuk menjamu AYP.
Tidak di kantor, tapi di ruang makan, tempat cerita mengalir lebih jujur daripada dalam rapat koordinasi.
“Beliau sahabat saya. Kami ini satu DNA. Sama-sama lahir dari pergerakan,” ujar Bupati Syahar dengan nada penuh afeksi, mengingat masa-masa aktivisme mereka di KNPI.
Kalimat ini, walau sederhana, mengandung satu istilah menarik: aktivis-DNA, yakni semacam watak bawaan yang tak mudah dibuang meski kini telah menjelma jadi birokrat atau elite partai.
Apa yang dibicarakan? Tak ada transkrip resmi. Tapi bisa ditebak. Soal Sidrap. Soal Parepare.
Bersambung…
Soal bagaimana koneksi personal bisa menjadi jembatan menuju kolaborasi lintas wilayah. AYP pun tidak datang dengan tangan kosong.
Ia membawa dukungan politik. Partainya—Perindo—sudah punya dua kursi di DPRD Sidrap. Tidak cukup untuk mengubah peta kekuasaan, tapi cukup untuk menjadi mitra koalisi cair yang siap mendukung visi-misi kepala daerah.
“Kami sahabat. Tapi juga bagian dari sistem demokrasi. Kami akan mendukung pemerintahan yang bekerja untuk rakyat,” tegas AYP, yang juga dikenal sebagai Wakil Ketua Kadin Indonesia.
Di titik ini, politik dan ekonomi bertemu dalam satu tubuh. AYP menjadi contoh hibrida antara aktivis, politisi, dan pengusaha. Ia menjembatani ruang-ruang yang sering kali terlalu birokratis untuk dipersatukan.
Di Parepare, suasana tak kalah hangat. Wali Kota Tasming Hamid menjamu AYP dengan cara khas Kota Cinta: makan malam santai di restoran, jauh dari protokoler.
Di sinilah kekuatan politik gastronomi bekerja—di mana makan bersama bisa mencairkan sekat dan mempererat simpul kekuasaan.
“Saya dan Pak Tasming ini sahabat lama. Dari zaman KNPI dulu. Saya tahu betul karakternya—visioner dan konsisten,” ujar AYP, dengan nada yang tak bisa ditangkap sebagai basa-basi. Ini bentuk validasi emosional, bukan endorsement politik biasa.
Bersambung…
Apa makna semua ini? Bukan cuma reuni. Tapi sinyal politik. Di balik jamuan, tersirat intensi.
Bahwa Ajatappareng—kawasan strategis di Sulawesi Selatan—sedang bersiap mengonsolidasikan kekuatan. Bukan lewat konflik atau kompetisi, tapi lewat persahabatan dan kolaborasi.
Dan AYP, meski bukan kepala daerah, muncul sebagai “aktor transisi” yang bisa menghubungkan pusat dan daerah, partai dan pemerintah, ekonomi dan politik.
Maka jangan heran kalau dalam waktu dekat, akan ada efek domino dari pertemuan ini. Entah itu program lintas kabupaten, sinergi antar-pemuda, atau bahkan gerakan baru di bawah bendera pembangunan kolektif.
Siapa sangka, KNPI yang dulu hanya dianggap tempat “pemuda ngopi dan diskusi”, kini melahirkan para “penentu arah”. Dan Sidrap-Parepare menjadi panggung pertemuan mereka yang kini telah menjelma menjadi pemimpin.
Begitulah politik bekerja. Tak selalu lewat panggung formal. Kadang lewat tawa santai, kopi hangat, dan ingatan lama yang dibangkitkan kembali dalam suasana baru.(*)
Tinggalkan Balasan