PAREPARE, Katasulsel.com β Menjelang Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan, suhu perbincangan di kalangan insan pers mulai menghangat. Di tengah dinamika yang berkembang, sejumlah tokoh pers mengingatkan agar para wartawan tidak terburu-buru menentukan pilihan hanya karena kedekatan, kelompok, atau arus dukungan yang sedang menguat.
Pesan itu datang dari tokoh pers senior Arumahi. Mantan Pemimpin Redaksi Harian Pedoman Rakyat tersebut mengingatkan pentingnya memahami rekam jejak, kapasitas, integritas, serta visi dan misi setiap calon Ketua PWI Sulsel sebelum menjatuhkan pilihan.
Menurutnya, organisasi profesi wartawan membutuhkan pemimpin yang benar-benar teruji, bukan sekadar populer atau ramai diperbincangkan.
βSeluruh insan pers harus memahami rekam jejak dan visi-misi para calon. Jangan sampai memilih seperti membeli kucing dalam karung,β ujar Arumahi.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Pernyataan itu mendapat dukungan dari mantan Ketua PWI Parepare-Barru, Abd. Razak Arsyad. Tokoh yang akrab disapa Acha itu menilai pesan tersebut merupakan bentuk kepedulian senior terhadap masa depan organisasi wartawan di Sulawesi Selatan.
Menurut Acha, memilih pemimpin PWI bukan perkara sederhana. Jabatan itu membutuhkan figur yang mampu menjaga marwah organisasi, memperjuangkan kepentingan anggota, serta memiliki kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai pihak.
βPemimpin organisasi profesi tidak cukup dipilih karena faktor kedekatan. Harus dilihat kualitasnya secara utuh. Jangan beli kucing dalam karung. Lihat bibit, bebet, dan bobotnya,β katanya, Senin, 1 Juni 2026.
Ia menjelaskan, filosofi bibit, bebet, dan bobot masih relevan digunakan dalam melihat kualitas seorang pemimpin.
Bibit berkaitan dengan karakter dan nilai yang membentuk pribadi seseorang. Bebet menyangkut rekam jejak sosial, kemampuan menjaga nama baik organisasi, hingga kredibilitas di lingkungan profesi. Sedangkan bobot mencerminkan kualitas kepemimpinan, pengalaman organisasi, integritas, serta kapasitas intelektual yang dimiliki.
Acha juga mengajak para wartawan menggunakan naluri jurnalistik dalam menyikapi kontestasi organisasi. Menurutnya, profesi wartawan sejatinya terbiasa memverifikasi informasi dan menilai fakta secara objektif. Sikap yang sama semestinya diterapkan saat menentukan pilihan dalam konferensi organisasi.
βWartawan itu terbiasa memeriksa fakta dan melihat data. Karena itu, pilihlah berdasarkan apa yang diketahui dan dipahami, bukan karena propaganda atau ajakan untuk menjatuhkan calon lain,β ujarnya.
Di tengah meningkatnya dinamika menjelang konferensi, berbagai kalangan berharap proses demokrasi di tubuh PWI Sulsel tetap berlangsung sehat, elegan, dan bermartabat. Perbedaan pilihan dinilai sebagai hal yang wajar, namun persatuan organisasi serta kehormatan profesi wartawan harus tetap menjadi kepentingan yang lebih besar daripada sekadar memenangkan kontestasi.
Sebab pada akhirnya, yang dipilih bukan hanya seorang ketua. Yang dipertaruhkan adalah arah organisasi wartawan terbesar di Sulawesi Selatan untuk beberapa tahun ke depan. (*)
