Parepare, Katasulsel.com – Kota Parepare berubah menjadi lautan skuter pada Sabtu (23/5/2026), ketika ratusan hingga ribuan pecinta roda dua dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan memadati jalanan dalam gelaran Mods Mayday Ajatappareng 2026. Bukan sekadar konvoi, event ini menjelma menjadi pertemuan besar yang merayakan identitas, solidaritas, dan kultur jalanan yang rapi namun tetap penuh karakter.
Mengusung tema “We are Brother, Satu Aspal Semua Saudara”, kegiatan ini mempertemukan komunitas skuter dari lintas daerah di kawasan Ajatappareng dan sekitarnya. Start dimulai dari kawasan Mattirotasi dan berakhir di Cempae, menghadirkan pemandangan arus kendaraan yang bergerak serempak dalam formasi yang tertib, seperti orkestra mesin dua tak dan empat tak yang berjalan dalam satu irama.
Di tengah laju konvoi itu, Wali Kota Parepare, Tasming Hamid, hadir memberi sinyal dukungan penuh terhadap kegiatan yang menurutnya bukan sekadar ruang hobi, melainkan ruang sosial yang menyatukan banyak latar belakang komunitas.
Ia menilai kehadiran para rider dari berbagai daerah—mulai dari Sengkang, Pinrang, Barru, Pangkep, Makassar, Takalar hingga Sidrap—menjadi bukti bahwa budaya komunitas otomotif memiliki daya lekat sosial yang kuat di Sulawesi Selatan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada panitia pelaksana dan seluruh rider yang hadir di tempat ini,” ujarnya di sela pelepasan peserta.
Di mata pemerintah kota, gelaran ini bukan hanya parade kendaraan, tetapi juga etalase kecil dari bagaimana sebuah kota bisa menjadi ruang temu lintas wilayah. Kehadiran ribuan peserta juga membawa efek ikutannya sendiri: denyut ekonomi lokal yang ikut bergerak, dari keramaian titik kumpul hingga kawasan finis yang dipadati pengunjung.
Tasming Hamid juga menyoroti aspek kedisiplinan para peserta di jalan raya. Di tengah citra komunitas motor yang kerap distereotipkan ugal-ugalan, ia justru melihat wajah berbeda: konvoi yang tertib, terorganisir, dan patuh pada aturan lalu lintas.
“Tadi kita sudah memberikan contoh yang baik bahwa pecinta motor ini, khususnya komunitas Mods Mayday, tidak ugal-ugalan di jalan dan tetap tertib berlalu lintas dengan baik,” katanya.
Momen paling hidup terjadi ketika ia menyapa langsung para peserta yang datang dari berbagai kabupaten/kota. Sorak-sorai pecah ketika angka “24 kabupaten/kota” disebut sebagai representasi luasnya jejaring komunitas yang berkumpul di satu titik: Parepare.
Di tengah atmosfer yang hangat itu, ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus membuka ruang bagi event komunitas, terutama yang berdampak pada sosial dan ekonomi.
“Yakin dan percaya, event apa pun itu, khususnya skuter di Kota Parepare, tentu pemerintah akan membackup full,” tegasnya.
Ketika mesin-mesin akhirnya mereda di garis akhir Cempae, yang tersisa bukan sekadar jejak ban di aspal, melainkan narasi tentang bagaimana sebuah kota kecil di pesisir Sulawesi Selatan bisa berubah menjadi panggung besar persaudaraan jalanan, setidaknya untuk satu hari yang penuh suara mesin, salam tangan, dan solidaritas di atas roda. (*)
