PAREPARE — Ini bukan lagi soal baris-berbaris. Bukan pula sekadar hafalan aturan. Sebanyak 75 siswa Bintara Polri dari SPN Batua kini masuk babak yang lebih jujur: latihan kerja.

Di halaman Mapolres Parepare, Jumat sore (24/4/2026), mereka berdiri rapi. Seragam sama. Wajah beda-beda. Ada yang tegang, ada yang tampak percaya diri. Tapi satu hal pasti: semuanya akan diuji.

Bukan oleh instruktur. Tapi oleh lapangan.

Apel penerimaan digelar sederhana. Wakapolres Parepare Kompol Saharuddin memimpin. Pita disematkan. Simbolis. Tapi maknanya berat. Sejak itu, status mereka berubah—dari siswa, menjadi pelaku langsung di dunia kepolisian, meski masih dalam tahap belajar.

Selama 14 hari ke depan, mereka tidak lagi hanya mendengar teori. Mereka akan melihat langsung bagaimana laporan masuk, bagaimana warga mengadu, bagaimana masalah kecil bisa jadi besar—atau sebaliknya.

Mereka akan ditempatkan di lima fungsi berbeda. Artinya, lima wajah polisi akan mereka kenali. Dari yang humanis sampai yang penuh tekanan.

Pesan pimpinan singkat, tapi dalam: jangan santai.

Latja bukan tempat cari nyaman. Justru sebaliknya—tempat mengenal kerasnya tugas. Tempat pertama kali mereka sadar bahwa jadi polisi bukan hanya soal seragam, tapi soal keputusan, tanggung jawab, dan kadang… risiko.

Ada juga pesan yang jarang ditekankan di banyak tempat: berhenti saat waktu ibadah.

Setiap azan berkumandang, aktivitas dihentikan. Semua diarahkan ke masjid. Di situ mereka diajarkan satu hal sederhana—di tengah tugas, ada hal yang tidak boleh ditinggalkan.

Disiplin. Etika. Tanggung jawab. Itu kata-kata yang sering diulang. Klise? Mungkin. Tapi di lapangan, tiga hal itu sering jadi pembeda.

Dua minggu mungkin terasa singkat. Tapi bagi 75 siswa ini, bisa jadi itu adalah dua minggu yang mengubah cara pandang mereka.

Karena setelah ini, mereka tidak lagi sekadar belajar menjadi polisi.

Mereka mulai mengerti—apa artinya menjadi polisi. (*)

Merangkai data dan peristiwa menjadi narasi yang hidup dan informatif