Soppeng, Katasulsel.com — Langit Soppeng mulai redup. Ribuan warga memadati halaman Rumah Jabatan Bupati Soppeng, Minggu sore. Mereka datang bukan hanya untuk berbuka puasa.
Mereka datang untuk mendengar arah.
Di tengah suasana Ramadan yang hangat, Bupati Suwardi Haseng berdiri di hadapan masyarakatnya. Setahun memimpin bersama Wakil Bupati Selle KS Dalle, ia memilih momentum buka puasa sebagai ruang laporan sekaligus proyeksi.
Bukan sekadar seremonial. Ini panggung akuntabilitas.
Ia mulai dengan capaian. Jalan dan jembatan yang diperbaiki. Layanan kesehatan yang diperkuat. Sekolah yang ditingkatkan fasilitasnya. Sektor pertanian dan UMKM yang didorong agar tetap menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Namun yang lebih ditekankan bukan daftar proyek.
Melainkan arah.
“Kita ingin setiap program benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” tegasnya. Kalimat itu sederhana. Tetapi maknanya jelas: pembangunan tidak boleh berhenti pada papan proyek dan dokumentasi media sosial.
Tahun pertama, katanya, adalah fase konsolidasi. Menata ulang prioritas. Mengakselerasi janji kampanye. Mengukur mana program yang berdampak, mana yang perlu diperbaiki.
Lalu ke mana Soppeng diarahkan?
Pertama: infrastruktur dasar yang merata hingga pelosok. Tidak boleh ada desa yang merasa tertinggal. Jalan bukan hanya soal aspal, tetapi akses ekonomi, akses pendidikan, akses kesehatan.
Kedua: penguatan ekonomi kerakyatan. Pertanian tetap menjadi urat nadi. UMKM harus naik kelas. Pemerintah daerah, katanya, tidak boleh hanya menjadi regulator, tetapi fasilitator pertumbuhan.
Ketiga: pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan. Bukan sekadar bantuan sosial, tetapi pembukaan ruang produktif. Program harus menciptakan daya tahan ekonomi keluarga.
Ia juga menyinggung inovasi pelayanan publik berbasis digital. Birokrasi, menurutnya, tidak boleh lamban. Transparansi dan efisiensi menjadi kunci agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Ada satu proyek strategis yang disebut secara khusus: Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) BOT yang dikelola PDAM. Air bersih, katanya, adalah kebutuhan dasar. Jika SPAM berjalan optimal, maka kualitas hidup warga ikut terangkat.
Di hadapan ribuan warga, Suwardi tidak hanya berbicara tentang apa yang sudah dikerjakan. Ia berbicara tentang kesinambungan. Program yang belum tuntas tahun ini, katanya, tetap menjadi komitmen bersama wakil bupati.
“Pembangunan bukan sekadar proyek fisik,” ujarnya. “Yang terpenting adalah dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.”
Ramadan, bagi pemerintah daerah, bukan hanya bulan ibadah. Ia menjadi ruang refleksi. Setahun kepemimpinan adalah awal. Arah sudah dipaparkan. Target sudah disebut.
Kini pertanyaannya sederhana: seberapa konsisten langkah itu dijaga?
Karena rakyat Soppeng sore itu tidak hanya datang untuk berbuka puasa. Mereka datang membawa harapan agar arah pembangunan yang dijanjikan benar-benar sampai ke rumah-rumah mereka. (*)

Tinggalkan Balasan