Pangkep, Katasulsel.com – Perayaan Hari Jadi ke-66 Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) tahun ini tidak hanya diwarnai seremoni, tetapi juga mengirim sinyal perubahan arah pembangunan.

Di Aula DPRD, Selasa (14/4), kehadiran Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menjadi penanda bahwa Pangkep sedang didorong naik level. Bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi transformasi yang lebih luas.

Yang menarik, momentum ini memperlihatkan dua wajah pembangunan Pangkep: antara simbolik dan strategis.

Di satu sisi, seremoni berlangsung khidmat.

Di sisi lain, ada langkah konkret—penyerahan bantuan Rp10 miliar kepada Bupati Muhammad Yusran Lalogau. Angka ini bukan hanya soal nominal, tetapi pesan bahwa Pangkep menjadi salah satu titik perhatian provinsi.

Namun yang lebih unik bukan pada bantuannya, melainkan arah yang ditegaskan.

Gubernur tidak hanya bicara soal infrastruktur. Ia justru menekankan nilai lokal seperti Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi’ sebagai “mesin sosial” pembangunan.

Ini jarang muncul dalam forum resmi—ketika budaya ditempatkan sejajar dengan ekonomi.

Artinya, Pangkep tidak didorong menjadi daerah maju yang kehilangan identitas, tetapi tumbuh dengan karakter lokalnya sendiri.

Di sisi lain, Bupati Yusran menggeser fokus lebih jauh. Ia menegaskan bahwa masa depan Pangkep tidak cukup ditopang proyek fisik. Kunci utamanya ada pada kualitas sumber daya manusia.

Pernyataan ini penting. Banyak daerah terjebak pada pembangunan kasat mata—jalan, gedung, dan fasilitas. Namun Pangkep mulai mengarah pada investasi yang tak terlihat: kemampuan generasi mudanya.

“Kita butuh generasi pencipta peluang, bukan hanya pencari kerja,” tegasnya.

Ini menjadi titik unik dari perayaan HUT Pangkep kali ini. Narasi yang dibangun bukan sekadar “apa yang sudah dikerjakan”, tetapi “ke mana arah yang dituju”.

Pameran pembangunan yang digelar juga memperkuat pesan tersebut. UMKM, inovasi daerah, hingga potensi unggulan ditampilkan sebagai gambaran bahwa Pangkep tidak hanya bergerak di satu sektor, tetapi mencoba tumbuh secara menyeluruh.

Namun tantangan sebenarnya ada setelah panggung ditutup.

Tema besar “Pangkep hebat berkelanjutan” bukan sekadar slogan. Ia menuntut konsistensi—apakah sinergi yang dibicarakan benar-benar berjalan, atau hanya berhenti di seremoni tahunan.

Di usia 66 tahun, Pangkep sedang berada di fase penting: bukan lagi membangun dari nol, tetapi menentukan arah—apakah tetap berjalan biasa, atau benar-benar melompat menjadi daerah yang kompetitif.

Dan dari perayaan ini, satu pesan mulai terlihat jelas: Pangkep tidak ingin hanya tumbuh, tetapi ingin berkembang dengan cara yang berbeda.(*)

Gambar berita Katasulsel