PANGKEP, Katasulsel.com – Pemerintah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) memilih cara yang tidak biasa dalam menjaga ketahanan pangan. Bukan hanya memastikan makanan tersedia, tapi juga “mengawal perjalanan pangan” sejak dari dapur desa hingga ke meja makan masyarakat.
Bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar, Pemkab Pangkep mulai membangun sistem keamanan pangan berbasis lintas sektor—sebuah pendekatan yang menghubungkan desa, sekolah, hingga pasar dalam satu jalur pengawasan.
Tahun 2026, sebanyak 17 titik ditetapkan sebagai lokasi fokus. Menariknya, lokasi ini tidak hanya terpusat di satu sektor, tetapi tersebar dari Desa Padang Lampe dan Desa Manggalung, ke sekolah-sekolah, hingga pasar tradisional seperti Pasar Kassi dan Pasar Tanete.
Di sinilah sisi uniknya: Pangkep tidak hanya mengawasi produk, tapi juga ekosistemnya sekaligus.
Program ini mengusung tiga prioritas nasional—Desa Pangan Aman, Sekolah yang Membudayakan Keamanan Pangan, dan Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas. Namun di lapangan, pendekatannya terasa seperti “rantai pengaman” yang saling terhubung.
Jika satu titik lemah, maka seluruh sistem bisa terdampak.
Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak bisa lagi dilihat secara sempit.
“Yang harus dipastikan bukan hanya ketersediaan pangan, tetapi juga keamanannya bagi masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan pergeseran cara pandang: dari sekadar cukup makan, menjadi makan yang aman dan sehat.
Sementara itu, Kepala BBPOM Makassar, Yosef Dwi Irwan, melihat program ini sebagai langkah penting yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Menurutnya, pangan bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga menyangkut kesehatan, ekonomi, hingga kualitas sumber daya manusia.
“Pangan harus tersedia dan aman. Itu kunci membangun masyarakat yang sehat dan unggul,” katanya.
Yang membuat program ini semakin menarik adalah keterlibatan banyak pihak—Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, Dinas Pendidikan, hingga pemberdayaan desa—semua bergerak dalam satu skema yang sama.
Dalam praktiknya, ini seperti “operasi senyap” yang bekerja di berbagai titik tanpa banyak terlihat, tetapi berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kini, 17 lokasi di Pangkep bukan sekadar titik program, melainkan menjadi semacam “laboratorium lapangan” untuk menguji apakah sistem pangan aman benar-benar bisa dibangun dari bawah.
Jika berhasil, model ini bukan tidak mungkin akan direplikasi ke wilayah lain.
Dan dari Pangkep, muncul satu pendekatan baru: bahwa keamanan pangan tidak dimulai dari kebijakan besar—tetapi dari langkah kecil yang terhubung, dari desa hingga pasar. (*)
