Sidrap, katasulsel.com — Di Kabupaten Sidenreng Rappang, petani selama ini punya satu kebiasaan yang tidak pernah berubah: sering menengadah ke langit.
Bukan untuk menikmati awan.
Tapi menunggu hujan.
Sebab bagi ribuan hektare sawah tadah hujan di Sidrap, air selalu menjadi “nasib”. Kalau hujan datang tepat waktu, petani bisa tersenyum. Kalau musim bergeser sedikit saja, panen ikut gelisah.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Karena itu, Selasa siang di Desa Rijang Panua, Kecamatan Kulo, terasa berbeda.
Ada suara air yang mengalir.
Dan bagi petani, itu lebih menenangkan daripada pidato panjang.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, meresmikan sekaligus melakukan uji pengaliran Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Program Inpres—program yang diharapkan menjadi jawaban atas persoalan klasik pertanian Sidrap: kekurangan air.
Peresmian itu sekaligus dirangkaikan dengan serah terima fasilitas dari BBWS Pompengan Jeneberang kepada Pemerintah Kabupaten Sidrap.
Tetapi yang paling menarik bukan seremoni gunting pita atau formalitas acaranya.
Yang paling terasa justru optimisme baru yang mulai muncul di wajah petani.
Karena untuk pertama kalinya, sawah tadah hujan di beberapa titik Sidrap mulai tidak sepenuhnya bergantung pada langit.
Sidrap Sedang Mencoba Mengubah Takdir Sawah Tadah Hujan
Di banyak daerah, irigasi mungkin dianggap proyek biasa.
Namun di Sidrap, air adalah urusan serius.
Selanjutnya……………
Daerah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan. Tetapi sebagian wilayah pertaniannya masih bertumpu pada pola tadah hujan.
Akibatnya, ritme tanam petani sering tidak stabil.
Kalau musim kemarau datang lebih panjang, sawah bisa berubah jadi tanah retak-retak. Petani terpaksa menunda tanam. Bahkan kadang memilih pasrah.
Karena itulah pembangunan delapan unit JIAT di Sidrap dianggap bukan sekadar proyek teknis.
Ia seperti “mesin kehidupan baru” bagi sawah-sawah yang selama ini hidup dari ketidakpastian cuaca.
“Program ini sangat bermanfaat karena persoalan air yang selama ini menjadi kendala utama petani kini mulai teratasi,” kata Syaharuddin.
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi petani tadah hujan, air memang sering lebih penting daripada pupuk.
Begitu Air Ada, Bupati Langsung Pasang Target Tinggi
Menariknya, Syaharuddin tidak berhenti pada urusan pengairan saja.
Begitu air mulai tersedia, ia langsung memasang target ambisius: produktivitas gabah 10 ton per hektare.
Target itu bukan angka kecil.
Selanjutnya……………
Apalagi jika dikaitkan dengan program IP300 atau pola tanam tiga kali setahun yang kini mulai didorong pemerintah daerah.
Artinya, Sidrap tidak lagi hanya ingin bertahan sebagai daerah pertanian biasa.
Mereka ingin naik kelas.
“Kalau air tersedia, petani harus berani meningkatkan produksi,” kira-kira begitu pesan yang ingin ditegaskan pemerintah daerah.
Dan untuk mengejar target itu, Pemkab Sidrap mulai mendorong sejumlah strategi sekaligus.
Mulai dari penggunaan benih seragam, pengaturan pola tanam kolektif, sampai pengelolaan air yang lebih disiplin.
Karena pertanian modern sekarang tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman lapangan. Ia mulai membutuhkan manajemen.
Harga Gabah Lagi Bagus, Momentum Jangan Hilang
Ada satu bagian menarik ketika Syaharuddin berbicara di hadapan petani.
Ia tidak hanya bicara produksi.
Ia juga bicara harga gabah.
Karena petani sebenarnya punya satu ketakutan klasik: panen banyak, harga malah jatuh.
Saat ini harga gabah di Sidrap disebut berada pada kisaran Rp7.300 hingga Rp7.500 per kilogram.
Angka yang cukup membuat petani sedikit lega.
“Kami akan terus memantau pasar agar harga tetap menguntungkan bagi produsen,” ujar Syaharuddin.
Kalimat itu penting.
Karena di sektor pertanian, masalah sering bukan cuma soal hasil panen. Tapi juga bagaimana hasil itu dihargai.
Petani bisa bekerja berbulan-bulan di sawah. Tetapi kalau harga jatuh saat panen tiba, semua kerja keras terasa sia-sia.
Air Kini Jadi “Senjata” Baru Pertanian Sidrap
Sementara itu, PPK Pendayagunaan Air Tanah BBWS Pompengan Jeneberang, Trisno Widodo, menjelaskan pembangunan sumur JIAT memang diprioritaskan untuk kawasan yang selama ini sulit mendapatkan akses irigasi teknis.
Selanjutnya……………
Artinya, proyek ini memang menyasar titik paling rawan.
Wilayah-wilayah yang dulu sering tertinggal karena persoalan air.
Dan kalau program ini berhasil, dampaknya bukan cuma pada sawah.
Tetapi juga pada ekonomi desa.
Karena di daerah agraris seperti Sidrap, denyut ekonomi masyarakat sangat bergantung pada panen.
Kalau sawah hidup, desa ikut bergerak.
Kini Petani Sidrap Mulai Punya Kepastian
Acara kemudian ditutup dengan peninjauan langsung sumur JIAT oleh bupati bersama jajaran OPD terkait.
Ada Patahangi Nurdin, Kepala Dinas PSDA Andi Safari Renata, dan sejumlah pejabat lain yang ikut mendampingi.
Tetapi bagian paling penting justru terjadi setelah acara formal selesai.
Bupati duduk berdialog dengan petani.
Mendengar langsung keluhan mereka tentang pengairan.
Tentang musim.
Tentang sawah.
Tentang harapan.
Dan mungkin di situlah inti pembangunan sebenarnya.
Selanjutnya……………
Bukan hanya membangun sumur atau saluran air.
Tetapi menghadirkan rasa tenang bagi petani—bahwa mulai sekarang, mereka tidak harus terus-menerus menunggu hujan datang dulu untuk mulai menanam. (edy)
Update terbaru: 12 Mei 2026 16:35 WIB
