Konawe Utara, katasulsel.com — Tiga tahun terakhir, hidup HS praktis habis di jalanan.
Dari pasar ke pasar.
Dari desa ke desa.
Kadang sampai lintas provinsi.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Ia meninggalkan Kendari demi berdagang keliling di Konawe Utara, mengikuti jejak sang kakak.
Rokok.
Barang pecah belah.
Apa saja yang bisa dijual, ia bawa dengan mobil putihnya.
Di Sulawesi, cara berdagang seperti itu punya istilah sendiri: mengampas.
Door to door.
Mendatangi orang satu per satu.
Kadang untungnya kecil.
Tetapi cukup untuk bertahan hidup.
HS menjalani itu hampir setiap hari.
Ia bahkan dikenal rutin sampai ke wilayah Morowali demi menjajakan dagangannya.
Tetapi perjalanan terakhirnya pada April 2026 berubah menjadi kisah yang sangat tragis.
Bukan karena kecelakaan.
Bukan pula karena dirampok orang asing di jalan.
Melainkan karena dibunuh oleh dua orang yang justru ikut bersamanya di dalam mobil.
Dua orang yang selama ini dikenalnya.
Dua orang yang disebut tetangganya sendiri.
Satu masih remaja berusia 15 tahun.
Satunya lagi baru 18 tahun.
Dan semuanya bermula dari perjalanan dagang biasa.
Hilang Setelah Berangkat Berdagang
Pada 15 April 2026, HS berangkat seperti biasa.
Bedanya kali ini ia tidak sendiri.
Selanjutnya…………..
Update terbaru: 12 Mei 2026 20:33 WIB
