Katanya, HS pergi sendiri ke Morowali.

Katanya lagi, ia dan IF turun di Langgikima lalu pulang naik travel.

Cerita itu terdengar rapi.

Tetapi tidak bertahan lama.

Setelah diinterogasi berjam-jam, kebohongan mulai runtuh.

DI akhirnya mengaku tahu korban dibunuh.

Ia sempat mencoba menyeret nama “sembilan orang lain”.

Tetapi cerita itu kembali berubah.

Dan sekitar pukul tujuh malam, pengakuan sebenarnya keluar.

Tidak ada sembilan orang.

Pelakunya hanya dua.

DI dan IF sendiri.

Dibunuh di Dalam Mobil

Kisah pembunuhan itu terjadi dini hari.

Mobil sedang melaju di kawasan Desa Tetewatu, Kecamatan Wiwirano.

IF menyetir.

Korban HS duduk di tengah.

DI di sisi kiri.

Saat itulah serangan dimulai.

DI mencekik leher korban.

Sementara IF menghantam kepala HS berkali-kali.

Di dalam mobil yang biasa dipakai berdagang itu, nyawa HS perlahan habis.

Tanpa sempat melawan.

Tanpa sempat meminta tolong.

Setelah tubuh korban lemas, mereka membungkusnya memakai selimut.

Lalu mobil diputar kembali menuju arah Morowali.

Sesampainya di Jembatan Meseu, mereka berhenti.

Mayat HS diturunkan.

Dibopong bersama-sama.

Lalu dibuang ke bawah jembatan.

Begitu saja.

Seolah sedang membuang barang yang tidak lagi dibutuhkan.

Rp30 Juta dan Satu Dus Rokok

Motifnya ternyata sederhana.

Uang.

Menurut pengakuan pelaku, mereka mengambil uang tunai hasil jualan korban sekitar Rp30 juta.

Mereka juga membawa satu dus rokok dan handphone milik korban.

Ponsel itu kemudian dibuang.

Sementara mobil korban ditinggalkan di Morowali.

Selanjutnya…………..