SOPPENG, Katasulsel.com — Senin pagi itu tak sekadar seremoni. Di ruang kerja Bupati, pesan yang disampaikan lugas—tanpa basa-basi.

Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, melepas tiga tenaga kesehatan (nakes) yang akan mendampingi jemaah haji asal Soppeng pada musim haji 1447 H/2026 M. Bukan hanya melepas, tapi memberi garis tegas: tugas ini bukan rutinitas. Ini amanah.

“Jangan anggap ini perjalanan biasa. Ini ibadah sekaligus tanggung jawab besar. Layani jemaah kita dengan profesional, sepenuh hati,” tegasnya.

Tidak semua orang bisa sampai di titik ini. Ketiganya lolos dari saringan ketat. Mulai dari seleksi administrasi, ujian berbasis komputer (CAT), hingga wawancara. Mereka yang berdiri hari itu bukan pilihan kebetulan.

Bupati tahu betul. Karena itu, apresiasi diberikan—tapi juga diikuti ekspektasi tinggi.

Yang menarik, satu nama mencuri perhatian. Bukan karena jabatan, tapi status.

Seorang nakes yang lolos ternyata berstatus ASN PPPK paruh waktu. Sebuah sinyal kuat: pintu pengabdian terbuka untuk siapa saja yang kompeten.

“Ini bukti, tidak ada sekat. Bukan soal status, tapi kemampuan dan dedikasi,” kata Suwardi.

Pesan itu terasa lebih dalam. Di tengah stigma yang kadang melekat pada status kepegawaian, Soppeng justru menunjukkan arah berbeda.

Tiga nama yang akan mengemban tugas itu adalah:

dr. Andi Risqah — Dokter Kloter 1, UPTD PSC 119 Soppeng
Kasniah — Perawat Kloter 1, Puskesmas Batu-Batu
Sri Muliana — Perawat AID, Puskesmas Goarie (PPPK Paruh Waktu)

Mereka bukan hanya berangkat sebagai petugas medis. Tapi juga wajah Soppeng di tanah suci.

Dan satu hal yang pasti—pesan bupati sudah jelas: jangan sekadar hadir, tapi harus berarti. (*)

Gambar berita Katasulsel