Sidikalang, Katasulsel.com — Di tengah padatnya pusat Kota Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, berdiri sebuah sekolah dengan bangunan yang terlihat sederhana. Namun dari ruang-ruang kelas itulah, sejumlah anak muda justru berhasil menembus pasar kerja internasional.
Alumni SMK Swasta Prima Sidikalang kini tersebar di berbagai sektor kerja, mulai dari hotel berbintang hingga kapal pesiar dunia. Bahkan, beberapa di antaranya bekerja di luar negeri dan menerima penghasilan dalam mata uang dolar.
Tenaga pengajar SMK Swasta Prima Sidikalang, Rei Capoor Simanulang, mengatakan keberhasilan para alumni bukan datang secara instan. Sejak awal, sekolah menanamkan kemampuan Bahasa Inggris, mental kerja, dan etika profesi sebagai bekal utama menghadapi persaingan global.
“Target kami jelas, siswa harus siap masuk dunia kerja. Bahasa Inggris itu wajib, mental harus kuat, dan etika tidak boleh hilang,” ujar Rei, Selasa (19/5/2026).
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Beberapa nama alumni yang disebut sukses berkarier di luar negeri di antaranya Reni Sinamo yang bekerja di Amerika Serikat serta Olivia Sihombing di Dream Cruise Singapore.
Sementara alumni lainnya bekerja di sektor perhotelan dan kapal pesiar, seperti Josua Siburian di Hotel Executive Tentram Jakarta serta Santo Petrus Siburian di Royal Caribbean.
Menurut Rei, salah satu budaya yang terus dipertahankan sekolah adalah komunikasi aktif menggunakan Bahasa Inggris. Bahkan setiap Kamis ditetapkan sebagai “English Day”, di mana siswa dan guru diwajibkan berinteraksi memakai Bahasa Inggris dalam aktivitas sekolah.
Program tersebut sudah diterapkan sejak siswa duduk di bangku kelas 10 melalui kelas tambahan Bahasa Inggris secara rutin.
“Sering tamu datang lalu kaget melihat siswa dan guru ngobrol pakai Bahasa Inggris. Dari situ mereka mulai melihat kualitas anak-anak kami,” katanya.
Rei mengakui, secara fisik sekolah mereka kerap dipandang sebelah mata karena bangunannya tidak besar dan berada di lokasi yang cukup sempit di pusat kota. Namun, menurutnya, kualitas peserta didik menjadi jawaban atas keraguan itu.
Ia juga menyebut minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di SMK tersebut terus meningkat. Bahkan pihak sekolah mulai kewalahan menerima pendaftaran siswa baru karena keterbatasan ruang belajar.
Saat ini sekolah hanya memiliki tiga rombongan belajar dengan total sekitar 350 siswa aktif.
“Perluasan sekolah dan pencarian lokasi baru sedang dibahas manajemen karena daya tampung sudah sangat terbatas,” ungkapnya.
Dalam waktu dekat, sejumlah siswa juga dijadwalkan menjalani program magang di biro travel di Yogyakarta dan Batam. Seluruh proses wawancara dilakukan menggunakan Bahasa Inggris.
Bagi pihak sekolah, kemampuan berbicara Bahasa Inggris bukan sekadar nilai akademik, melainkan pintu untuk membuka keberanian bermimpi lebih besar.
“Ketika anak muda sudah percaya diri berbahasa Inggris, biasanya cita-citanya juga ikut naik,” tutup Rei.
Penulis : Sarifuddin Siregar







