Jakarta, katasulsel.com — Ruang Paripurna DPR RI, Selasa siang, 12 Mei 2026, tidak hanya menjadi tempat pelantikan biasa. Di Gedung Nusantara II, Senayan, publik melihat satu generasi politik baru resmi naik ke panggung nasional.

Namanya dr. Adela Kanasya Adies.

Masih muda. Berprofesi dokter. Lulusan London. Dan kini resmi menjadi anggota DPR RI melalui mekanisme Pergantian Antarwaktu (PAW) untuk sisa masa jabatan 2024–2029.

Ia menggantikan sang ayah sendiri: Adies Kadir, politisi senior Partai Golkar yang harus melepas kursi parlemen setelah menerima amanah baru sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Di politik Indonesia, kisah “anak menggantikan ayah” sebenarnya bukan cerita baru. Tapi kasus Adela punya warna berbeda.

Sebab yang datang ke Senayan kali ini bukan kader partai murni yang tumbuh dari ruang rapat politik atau lorong konsolidasi partai.

Ia datang dari dunia lain.

Dari ruang praktik.

Dari dunia estetika.

Dari dunia medis yang selama ini lebih dekat dengan klinik, pasien, dan prosedur kecantikan ketimbang mikrofon sidang parlemen.

Dan mungkin di situlah menariknya.

Politik Kini Tidak Lagi Diisi Wajah Lama

Saat Ketua DPR RI Puan Maharani memimpin prosesi pengambilan sumpah, Adela tampak tenang. Tapi publik tahu, kursi yang ia duduki bukan kursi ringan.

Selanjutnya…………

Ia datang membawa dua “beban besar” sekaligus.

Pertama, nama besar ayahnya.

Kedua, ekspektasi terhadap generasi muda profesional yang mulai masuk ke dunia politik nasional.

Kalimat sumpah yang ia ucapkan terdengar formal seperti biasa.

“Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota DPR dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.”

Tetapi di balik prosesi seremonial itu, ada perubahan lanskap politik yang perlahan sedang terjadi.

Senayan kini mulai dipenuhi wajah-wajah baru dengan latar belakang non-politisi tradisional: dokter, pengusaha digital, akademisi, influencer, hingga profesional muda.

Dan Golkar tampaknya membaca arah perubahan itu.

Dari Unair ke London, Lalu Berbelok ke Politik

Profil Adela membuat banyak orang cepat tertarik.

Ia bukan sekadar “anak pejabat” yang tiba-tiba masuk parlemen.

Latar belakang akademiknya cukup mentereng.

Universitas Airlangga menjadi tempatnya menyelesaikan pendidikan kedokteran. Setelah itu, ia melanjutkan spesialisasi Kedokteran Estetika di Queen Mary University of London.

Selanjutnya………………

Kombinasi ini membuat citra Adela berbeda dibanding banyak politisi muda lain.

Ia membawa aura “kelas profesional urban”.

Di media sosial, profil seperti ini biasanya cepat mendapat perhatian. Dokter muda, berpendidikan luar negeri, tampil modern, lalu masuk parlemen—narasinya terasa sangat “era baru”.

Karena itu, pelantikannya langsung ramai diperbincangkan.

Apalagi di tengah meningkatnya tren politisi muda yang kini lebih sadar citra, komunikasi publik, dan branding personal.

Kursi DPR yang Tidak Datang Gratis

Meski datang melalui mekanisme PAW, kursi Adela sebenarnya bukan hadiah kosong.

Pada Pemilu 2024, Partai Golkar berhasil mengamankan satu kursi di Dapil Jawa Timur I yang meliputi Surabaya dan Sidoarjo dengan raihan total 245.453 suara.

Dan dalam sistem PAW, posisi pengganti memang diberikan kepada caleg peraih suara terbanyak berikutnya.

Adela mengoleksi 12.792 suara—berada di bawah Adies Kadir yang meraih 147.185 suara.

Secara hukum, jalurnya sah.

Selanjutnya………………

Tetapi publik Indonesia selalu punya sensitivitas tinggi terhadap politik dinasti.

Dan itu tantangan pertama yang kemungkinan akan terus mengikuti langkah Adela di Senayan.

Ia akan terus dibandingkan dengan sang ayah.

Terus diuji: apakah hadir karena kapasitas atau semata karena nama belakang.

Dokter Estetika dengan Harta Nyaris Rp10 Miliar

Hal lain yang langsung menarik perhatian publik adalah laporan kekayaannya.

Berdasarkan LHKPN yang dilaporkan ke KPK pada Februari 2026, total kekayaan Adela mencapai Rp9,95 miliar.

Angka yang cukup besar untuk politisi muda pendatang baru.

Asetnya didominasi tanah dan bangunan senilai Rp6,25 miliar di Jakarta Selatan dan Bekasi. Selain itu, ia juga memiliki dua mobil premium merek Mazda dan Lexus dengan total nilai sekitar Rp1,7 miliar.

Sisanya berasal dari harta bergerak lain dan simpanan kas.

Di era media sosial, detail seperti ini cepat menjadi bahan pembicaraan publik.

Ada yang melihatnya sebagai simbol kesuksesan profesional muda.

Ada juga yang mulai mengaitkannya dengan gaya hidup elite politisi baru.

Tetapi begitulah politik modern bekerja sekarang: bukan hanya soal pidato dan rapat, melainkan juga soal persepsi publik.

Senayan Sedang Berubah

Kehadiran Adela sebenarnya mencerminkan satu perubahan besar di parlemen Indonesia.

Selanjutnya………………

Dulu, kursi DPR identik dengan politisi senior, aktivis lama, atau tokoh partai yang matang dalam organisasi.

Kini wajah parlemen mulai berubah.

Lebih muda.

Lebih visual.

Lebih “media friendly”.

Dan kadang lebih populer sebelum benar-benar teruji secara politik.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi bagaimana Adela masuk ke DPR.

Tapi apa yang akan ia lakukan setelah masuk.

Karena di Senayan, sorotan kamera mungkin bisa membuka pintu. Tapi hanya kerja nyata yang bisa membuat publik bertahan memberi kepercayaan.

Dan mulai hari ini, dokter estetika lulusan London itu tidak lagi hanya bicara soal kecantikan wajah.

Ia mulai berhadapan dengan wajah lain yang jauh lebih rumit: politik Indonesia.

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.

Update terbaru: 12 Mei 2026 16:17 WIB