Makassar, katasulsel.com β Janji kerja yang seharusnya jadi harapan, berubah jadi awal mimpi buruk bagi seorang perempuan muda berinisial MA (21) asal Nunukan, Kalimantan Utara.
Ia datang jauh-jauh ke Makassar, bukan untuk bekerja seperti yang dijanjikan, tapi justru terjebak dalam dugaan penyekapan dan kekerasan seksual di sebuah rumah kontrakan di kawasan Tamalate.
Kasus ini kini tengah diselidiki Polsek Tamalate, setelah MA ditemukan dalam kondisi lemah dan tangan terikat di dalam rumah kontrakan di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar.
Dari keterangan awal kepolisian, MA datang ke Makassar setelah mendapat tawaran pekerjaan sebagai pengasuh bayi lewat media sosial Facebook. Tawaran itu terdengar meyakinkan: ada proses wawancara, ada pekerjaan, ada harapan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Tapi semua berubah begitu korban tiba di lokasi yang disebut sebagai tempat wawancaraβsebuah rumah kontrakan di kawasan perumahan Jalan Metro Tanjung Bunga.
Di sana, suasana yang awalnya tampak βformalβ perlahan berubah aneh. Tidak ada orang lain, hanya pelaku yang disebut berinisial FR (30). Korban sempat curiga, tapi tetap diyakinkan bahwa itu bagian dari proses wawancara.
Korban lalu diminta menginap dengan alasan kelelahan perjalanan jauh. Dari situ, dugaan kekerasan mulai terjadi. Rumah dikunci, dan MA disebut tidak bisa keluar selama kurang lebih tiga hari, dari Jumat (8/5) hingga Minggu (10/5).
Yang bikin peristiwa ini terungkap justru hal tak terduga: pemilik rumah kontrakan datang untuk mengecek masa sewa yang sudah habis. Saat pintu diketuk, bukan pelaku yang keluarβmelainkan seorang perempuan muda dalam kondisi lemas dan tangan terikat.
Pelaku sendiri sudah tidak berada di lokasi saat kejadian terbongkar. Ia diduga kabur sebelum warga dan pemilik rumah menyadari situasi sebenarnya.
Dari situ, warga langsung melapor ke polisi. MA kemudian dievakuasi dan mendapat pendampingan dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Makassar.
Yang bikin kasus ini makin serius, Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang turut turun tangan. Saat berada di Makassar, ia menjenguk korban dan meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut.
Selanjutnya…………
Update terbaru: 16 Mei 2026 05:41 WIB
