Enrekang, katasulsel.com — Di balik aroma khas gula aren yang selama ini menjadi salah satu produk unggulan masyarakat Desa Tapong, Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang, tersimpan tantangan yang tidak sedikit. Mulai dari proses produksi yang masih tradisional, kualitas produk yang belum seragam, hingga pemasaran yang terbatas membuat potensi ekonomi gula aren belum sepenuhnya berkembang.
Kondisi itulah yang mendorong tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN) turun langsung memberikan pendampingan kepada para pengrajin gula aren.
Melalui program yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, UNIMEN menghadirkan serangkaian pelatihan yang tidak hanya menyasar proses produksi, tetapi juga manajemen usaha hingga pemasaran digital.
Ketua Tim PKM UNIMEN, Nursyawal Nacing, mengatakan program ini dirancang untuk membantu pelaku usaha gula aren agar mampu menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan memiliki daya saing yang lebih kuat.
Menurutnya, pengrajin tidak cukup hanya menghasilkan produk yang baik. Mereka juga harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan memahami kebutuhan pasar yang terus berubah.
“Melalui program ini kami ingin menghadirkan solusi yang komprehensif, mulai dari aspek produksi, pengelolaan usaha, hingga strategi pemasaran,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam program tersebut adalah penggunaan teknologi evaporator vakum untuk proses pengolahan nira aren. Teknologi ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga kualitas gula aren agar lebih konsisten.
Selain pelatihan teknis, peserta juga mendapatkan pendampingan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai langkah menuju produk yang memiliki standar mutu yang lebih terukur.
Tidak berhenti pada proses produksi, tim PKM juga membekali para pelaku usaha dengan keterampilan mengelola keuangan, menyusun perencanaan bisnis, serta memanfaatkan platform digital untuk memperluas pemasaran.
Pelatihan tersebut dipandu oleh Imam Akbar yang menekankan pentingnya tata kelola usaha yang profesional agar produk lokal mampu menembus pasar yang lebih luas.
Sementara itu, aspek kemasan dan identitas produk juga menjadi perhatian khusus. Melalui pendampingan yang dipandu Wilda Widiawati, para peserta diperkenalkan pada konsep kemasan modern yang lebih menarik, ramah lingkungan, dan sesuai dengan selera konsumen masa kini.
Langkah tersebut dinilai penting karena persaingan produk pangan saat ini tidak hanya ditentukan oleh rasa dan kualitas, tetapi juga tampilan serta kekuatan merek di mata konsumen.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pelaksanaan kegiatan. Banyak pengrajin berharap pendampingan serupa dapat terus berlanjut agar usaha gula aren yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat dapat berkembang lebih pesat.
Dengan kombinasi teknologi produksi, penguatan manajemen usaha, inovasi kemasan, dan pemasaran digital, Desa Tapong kini tidak hanya dikenal sebagai penghasil gula aren. Desa ini mulai diproyeksikan menjadi sentra gula aren modern yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Jika transformasi ini berjalan sesuai harapan, bukan tidak mungkin gula aren dari Tapong kelak menjadi salah satu produk kebanggaan Enrekang yang dikenal hingga tingkat nasional.(*)
