Di tengah dominasi layar ponsel dan kuasa algoritma, pers tak hanya berjuang menjaga kebebasan, tetapi juga mempertahankan kredibilitas dan napas bisnisnya.

Oleh: Edy Basri

Hari Kebebasan Pers Sedunia setiap 3 Mei sejatinya bukan sekadar peringatan simbolik.

Ia adalah moment of truth—sebuah ruang refleksi untuk menguji sejauh mana pers masih berdiri sebagai pilar demokrasi, atau justru mulai goyah di tengah tekanan zaman.

Sejak ditetapkan oleh PBB pada 1993, terinspirasi dari Deklarasi Windhoek, hari ini mengingatkan dunia bahwa kebebasan pers bukan hadiah, melainkan hasil dari perjuangan panjang dan berkelanjutan.

Namun, jika dulu ancaman terhadap pers hadir dalam bentuk represi langsung—sensor, pembredelan, hingga kekerasan terhadap jurnalis—kini tantangannya bertransformasi.

Ia menjadi lebih subtil, lebih sistemik, dan dalam banyak hal lebih sulit dilawan. Jurnalisme hari ini tidak hanya berhadapan dengan kekuasaan, tetapi juga dengan algoritma, pasar, dan perubahan perilaku audiens.

Ruang redaksi telah mengalami disrupsi total. Dari yang dahulu berdenyut dalam ritme harian—deadline pagi untuk cetak, kini bergeser menjadi siklus tanpa henti. 24/7 news cycle memaksa jurnalis untuk terus memproduksi konten dalam logika kecepatan.

Publik pun berubah: dari pembaca setia menjadi scroller yang berpindah cepat dari satu berita ke berita lain melalui layar ponsel.

Fenomena ini melahirkan apa yang kerap disebut sebagai attention economy, di mana perhatian menjadi komoditas utama. Dalam ekosistem ini, judul yang menggugah (click-worthy headline) sering kali lebih menentukan daripada kedalaman isi.

Praktik clickbait pun menjamur, bukan semata karena pilihan redaksi, tetapi sebagai konsekuensi dari persaingan trafik yang brutal.

Di sinilah jurnalisme diuji: apakah tetap menjaga akurasi dan verifikasi, atau tergelincir dalam arus sensasionalisme.

Ironinya, di tengah lonjakan konsumsi informasi, kondisi ekonomi media justru kian terjepit. Media online tumbuh pesat, namun tidak semua mampu menemukan model bisnis yang berkelanjutan.

Kue iklan yang dulu menopang industri kini tergerus oleh dominasi media sosial. Banyak perusahaan lebih memilih beriklan di platform yang menawarkan engagement instan tanpa harus melalui proses kurasi jurnalistik.

Akibatnya, banyak media terjebak dalam situasi high traffic, low revenue. Pembaca datang, tetapi tidak selalu menghasilkan nilai ekonomi yang cukup.

Dalam kondisi seperti ini, efisiensi sering menjadi pilihan pahit: pengurangan tenaga redaksi, minimnya liputan lapangan, hingga meningkatnya ketergantungan pada konten agregasi. Kualitas pun menjadi taruhan.

Di sisi lain, hubungan dengan pemerintah juga tidak selalu menghadirkan solusi. Nilai kerja sama yang rendah dan tidak merata membuat media sulit menjadikannya sebagai sumber pendapatan yang stabil.

Bahkan, dalam beberapa kasus, relasi ini berpotensi mengganggu independensi—menggeser fungsi pers dari watchdog menjadi sekadar lapdog.

Tema Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 yang menyoroti kebebasan pers di era digital menjadi sangat relevan dalam konteks ini.

Ancaman siber, disinformasi, hingga serangan terhadap kredibilitas media menjadi tantangan baru yang tak kalah serius dibanding ancaman konvensional.

…………

Jurnalis kini tidak hanya dituntut berani, tetapi juga adaptif dan melek teknologi.

Meski demikian, harapan belum sepenuhnya redup. Di tengah tekanan, sebagian media mulai mengembangkan pendekatan baru: subscription model, membership journalism, hingga penguatan jurnalisme investigatif yang berbasis data.

Ini menunjukkan bahwa jurnalisme berkualitas masih memiliki tempat—asal mampu beradaptasi tanpa kehilangan integritas.

Hari Kebebasan Pers Sedunia pada akhirnya adalah pengingat bahwa kebebasan pers tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan ekosistem yang sehat: publik yang kritis, pasar yang adil, dan negara yang menghormati independensi media.

Tanpa itu semua, kebebasan hanya akan menjadi slogan, bukan realitas.

Dan di era ketika berita hadir dalam genggaman, perjuangan menjaga kebenaran justru menjadi semakin kompleks—namun juga semakin penting. (edy)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.