Air harus cukup.
Iklim harus bersahabat.
Petani harus disiplin.
Hama harus dikendalikan tanpa kompromi.
Kalau satu saja goyah, sistem bisa ikut goyah.
Karena itu, IP 300 bukan sekadar program, tapi sistem kerja yang menuntut konsistensi tinggi. Tidak bisa setengah hati. Itu pesan penting Syaharuddin Alrif.
Dalam waktu singkat, Sidrap tidak hanya menaikkan produksi. Ia sedang mengubah cara berpikir.
Dari “berapa kali panen” menjadi “berapa nilai yang dihasilkan.”
Dari “tanam lalu tunggu” menjadi “tanam, panen, ulangi, tambah nilai.”
Di tengah perubahan itu, suara petani di lapangan ikut memberi warna.
Seorang petani di Tanete misalnya, sambil duduk di pinggir sawah yang baru dipanen, tersenyum dan berkata, “Dulu satu tahun dua kali panen saja sudah syukur. Apalagi sekarang ini, syukurnya tiada tara.”
Petani lain menimpali dengan nada lebih antusias, “Yang paling terasa itu uangnya. Sekarang lebih sering masuk. Jadi kebutuhan rumah tangga lebih gampang diatur.”
Ada juga yang lebih sederhana komentarnya, “Capek iya, tapi hasilnya juga beda.”
Di beberapa kelompok tani, nada yang sama muncul berulang. Ada rasa senang karena sawah lebih produktif, meski diakui kerja lebih padat. Bahkan ada petani yang menyebut, “Sekarang sawah seperti tidak mau berhenti kasih rezeki.”
Lanjut lagi ya…………..
