Kalau bisa mencuri satu poin saja dari Jepang, efeknya bisa sangat besar. Mental pemain akan naik. Atmosfer ruang ganti berubah. Tekanan berkurang.
Karena di turnamen seperti Piala Asia, momentum sering lebih berharga daripada statistik.
Qatar: Raja Baru Asia yang Haus Dominasi
Kalau Jepang adalah “kelas lama” sepak bola Asia, maka Qatar adalah penguasa baru yang sedang menikmati era emasnya.
Lawan kedua Indonesia pada 16 Januari nanti bukan hanya juara bertahan. Qatar datang dengan status penguasa dua edisi terakhir Piala Asia.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Mereka juara pada 2019.
Lalu mengulanginya lagi pada 2023.
Dalam sepak bola Asia modern, itu bukan kebetulan. Itu tanda dominasi.
Timnas Qatar kini punya satu hal yang dulu tidak mereka miliki: mental juara.
Mereka tidak lagi sekadar tim kaya dengan fasilitas mewah. Mereka sekarang tahu cara menang di turnamen besar.
Dan Indonesia punya luka tersendiri ketika bertemu Qatar.
Publik masih ingat kontroversi Piala Asia U-23 2024. Saat Garuda Muda kalah 0-2 dalam laga yang memancing kemarahan suporter Indonesia karena keputusan-keputusan wasit yang dianggap merugikan.
Kini, “reuni” itu terjadi lagi.
Bedanya, ini level senior. Tekanannya lebih besar. Sorotannya lebih luas.
Dan bisa jadi, laga melawan Qatar nanti bukan cuma soal tiga poin. Tapi juga soal harga diri.
Thailand: Rival yang Selalu Membuat Emosi Naik
Kalau Jepang menghadirkan rasa kagum, dan Qatar menghadirkan tekanan, maka Thailand selalu menghadirkan emosi.
Tidak ada pertandingan yang benar-benar santai antara Indonesia dan Thailand.
Selanjutnya………………
Update terbaru: 12 Mei 2026 16:11 WIB
