BARRU, Katasulsel.com – Di tengah derasnya arus informasi digital yang sering tidak terbendung, mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar membawa “alat tempur” yang berbeda ke Kabupaten Barru: literasi digital.
Lewat program yang dilaksanakan di salah satu wilayah Barru, mahasiswa tidak hanya datang untuk mengajar atau mendampingi masyarakat, tetapi juga mencoba membangun cara berpikir baru dalam menghadapi dunia digital—yang kini sudah masuk ke hampir semua lapisan kehidupan desa.
Program ini menjadi menarik karena tidak lagi berbicara soal teknologi semata, tetapi soal cara masyarakat bertahan di tengah banjir informasi.
Literasi digital yang diperkenalkan mencakup kemampuan dasar memahami informasi, memilah konten yang benar dan salah, hingga penggunaan internet secara lebih aman dan produktif. Pendekatan ini menyasar masyarakat lintas usia, termasuk pelajar dan warga desa.
Di tengah kondisi saat ini, di mana informasi bisa menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, program ini terasa seperti “tameng awal” untuk masyarakat desa.
Mahasiswa KKN UIN Alauddin sendiri memang kerap membawa program berbasis literasi dan transformasi digital dalam pengabdian mereka di berbagai daerah, termasuk di wilayah Barru yang sebelumnya juga menjadi lokasi berbagai program inovatif berbasis masyarakat.
Yang membuat program ini unik, literasi digital tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi dikaitkan langsung dengan kehidupan sehari-hari—mulai dari penggunaan media sosial, akses informasi pertanian, hingga keamanan data pribadi.
Di titik ini, literasi digital berubah dari sekadar “materi pelatihan” menjadi keterampilan bertahan hidup di era informasi cepat.
Pihak pelaksana kegiatan menilai bahwa tantangan terbesar bukan pada akses teknologi, tetapi pada cara masyarakat menggunakan teknologi itu sendiri. Karena itu, pendekatan yang digunakan lebih ke arah pendampingan langsung, bukan sekadar sosialisasi satu arah.
Jika dilihat lebih luas, program seperti ini mulai menjadi pola baru dalam kegiatan KKN: bukan lagi sekadar hadir di desa, tetapi ikut membentuk ekosistem pengetahuan baru di masyarakat.
Dan dari Barru, pesan yang muncul cukup jelas—di era digital, yang paling berbahaya bukan ketertinggalan teknologi, tetapi ketertinggalan dalam cara memahami informasi. (*)
