Jakarta, katasulsel.com — Kursi Rusdi Masse di Senayan ternyata belum benar-benar dingin.

Belum ada pelantikan. Belum ada keputusan final diumumkan. Tapi aroma panasnya sudah terasa sampai ke internal Partai NasDem Sulawesi Selatan.

Pemicunya hanya satu: selembar potongan surat.

Surat berlogo NasDem itu mendadak beredar luas di media sosial dan grup-grup politik Sulsel. Isinya langsung bikin gaduh. Dalam dokumen yang belum terverifikasi penuh tersebut, nama Hayarna Hakim disebut sedang diproses DPP NasDem untuk menjadi anggota DPR RI melalui mekanisme Pergantian Antarwaktu (PAW), menggantikan RMS—sapaan populer Rusdi Masse.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Dan sejak nama itu muncul, cerita politiknya langsung berubah menjadi menarik.

Karena kursi DPR RI memang tidak pernah sekadar kursi.

Ia adalah simbol pengaruh, akses kekuasaan, sekaligus masa depan politik.

Surat Sudah Viral, DPW Mengaku Belum Tahu

Yang membuat situasi makin terasa “politik banget”, elite NasDem Sulsel ternyata tidak bicara dalam nada yang sama.

Sekretaris DPW NasDem Sulsel, Andi Rachmatika Dewi, memilih menahan diri.

Politisi yang akrab disapa Cicu itu belum mau mengakui keabsahan surat yang telanjur viral tersebut. Alasannya, DPW Sulsel sampai sekarang belum menerima tembusan resmi dari DPP.

“Kami belum terima tembusan suratnya. Konfirmasi ke DPP,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan.

Jawaban itu terdengar formal.

Tapi di dunia politik, kalimat formal sering menyimpan banyak tafsir.

Apakah benar belum tahu?

Atau memang belum ingin membuka kartu?

Selanjutnya…………..

Sebab dalam urusan PAW, informasi sering bergerak lebih cepat di lorong politik ketimbang di meja administrasi.

Kader Lain Justru Membenarkan

Menariknya, pernyataan Cicu justru berbeda dengan pengakuan kader NasDem Sulsel lainnya, Tobo Haeruddin.

Saat dikonfirmasi sebelumnya, Tobo malah secara singkat membenarkan bahwa proses PAW Hayarna memang sedang berjalan.

“Iya benar,” jawabnya pendek melalui WhatsApp.

Dua suara berbeda dari partai yang sama.

Dan publik politik Sulsel langsung mencium satu hal: ada dinamika internal yang tidak sederhana.

Karena kalau semua sudah benar-benar solid, biasanya narasi partai akan seragam.

Kursi yang Ditinggalkan RMS Memang Tidak Biasa

Polemik ini makin besar karena kursi yang diperebutkan bukan kursi sembarangan.

Pada Pemilu 2024 lalu, NasDem berhasil mengamankan dua kursi DPR RI dari Dapil Sulsel III. Dua nama yang lolos saat itu adalah Eva Stevany Rataba dan Rusdi Masse.

Namun peta berubah total ketika RMS memutuskan hengkang ke Partai Solidaritas Indonesia atau PSI.

Keputusan itu otomatis membuat kursinya di DPR RI harus dilepas.

Dan sejak saat itu, pertanyaan mulai muncul: siapa pewaris kursi RMS?

Selanjutnya…………..

Masalahnya, proses PAW kali ini tidak berjalan mulus.

Karena hampir semua nama yang berada di urutan berikutnya punya persoalan politik masing-masing.

Putri Dakka: Suara Besar, Tapi Kontroversial

Secara aturan, posisi berikutnya sebenarnya ditempati Putri Dakka dengan raihan 53.700 suara.

Tetapi nama Putri Dakka justru disebut sulit diterima sebagian kader NasDem.

Penyebabnya adalah konflik politik lama saat Pilkada Palopo 2024.

Saat itu, Putri dianggap membelot karena tetap maju sebagai calon wali kota meski NasDem sudah punya kandidat resmi sendiri.

Konflik itu membuat hubungannya dengan partai disebut merenggang.

Belum lagi muncul isu bahwa ia telah pindah ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP, meski kabar itu beberapa kali dibantah.

Di politik, loyalitas sering lebih mahal daripada suara.

Dan itu tampaknya sedang berlaku di kasus ini.

Kandidat Berikutnya Juga “Lewat”

Masalah NasDem tidak berhenti di situ.

Posisi keempat ditempati Andi Aslam Patonangi dengan 43.580 suara.

Tetapi Aslam juga sudah lebih dulu menyatakan mundur dari NasDem sebelum RMS hengkang.

Artinya, jalur PAW menjadi semakin berliku.

Dan di tengah situasi itulah nama Hayarna Hakim mulai muncul ke permukaan.

Hayarna sendiri meraih 29.162 suara pada Pileg 2024.

Selanjutnya…………..

Namun bahkan kemunculannya pun tidak sepenuhnya mulus. Di internal partai, kabarnya ada kader yang mempertanyakan loyalitas politik keluarga Hayarna karena disebut memiliki kedekatan dengan partai lain.

Situasi ini membuat kursi RMS terasa seperti “kursi panas”.

Siapa pun yang duduk di sana nanti, pasti akan membawa cerita politik panjang di belakangnya.

Rumor KPK Ikut Menambah Tegang

Ketegangan makin terasa setelah muncul rumor bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK disebut tengah melakukan penyelidikan terkait proses PAW NasDem.

Rumor itu cepat menyebar di media sosial.

Dan seperti biasa, politik Indonesia memang sangat akrab dengan isu-isu “liar” menjelang keputusan penting.

Namun ketika dikonfirmasi, Tobo Haeruddin mengaku tidak mengetahui informasi tersebut.

“Kami tidak tahu soal itu,” katanya.

Meski belum jelas kebenarannya, rumor seperti ini cukup membuat suasana internal partai makin sensitif.

Kursi DPR Itu Soal Pengaruh, Bukan Sekadar Administrasi

Di atas kertas, PAW memang hanya mekanisme hukum.

Selanjutnya…………..

Ada aturan KPU.

Ada regulasi partai.

Ada urutan suara.

Tetapi politik tidak pernah sesederhana angka.

Ada loyalitas.

Ada konflik lama.

Ada perebutan pengaruh.

Dan kadang, ada pertarungan diam-diam yang tidak pernah muncul ke publik.

Sekarang semua itu sedang bertemu dalam satu titik: kursi RMS.

Dan sampai keputusan resmi benar-benar diumumkan DPP NasDem, kursi itu tampaknya masih akan terus dipanaskan oleh rumor, manuver, dan tarik-menarik kepentingan politik internal. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Update terbaru: 12 Mei 2026 16:25 WIB