Majene, katasulsel.com – Di SDN No. 02 Babbanulo, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), konsep “efisiensi ruang” sudah lama selesai dipraktikkan tanpa seminar, tanpa MoU, dan tanpa seremoni.

Semua fungsi dilebur dalam satu ruangan, kepala sekolah, guru, perpustakaan, sampai UKS.

Kalau ini balapan, ini seperti satu tim Moto3 yang hanya punya satu motor untuk semua pembalap—dan semua dipaksa ikut sesi latihan bergantian.

Di ruangan itu, meja kepala sekolah berdiri berdampingan dengan tumpukan administrasi. Di sisi lain, buku perpustakaan seperti rider cadangan yang jarang turun lintasan. Sementara kotak obat UKS hanya bisa “standby”, seperti marshal yang tidak punya pos sendiri.

Secara teori, ini bukan sekolah lagi. Ini sudah seperti “shared paddock”. Semua aktivitas bertemu di satu titik, tanpa sekat, tanpa ruang aman, tanpa jeda untuk cooling down.

Kepala sekolah Hj. Ramlia, S.Pd., SD., tidak lagi terdengar seperti administrator pendidikan, tapi seperti race engineer yang sudah terlalu lama mencoba memperbaiki motor dengan spare part terbatas.

“Kami ini semua digabung dalam satu ruangan. Kalau lomba, jelas sangat sulit bersaing dengan sekolah lain yang fasilitasnya lengkap,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti pengakuan seorang pembalap yang tahu motornya tidak bisa masuk Q2, bukan karena tidak bisa ngebut, tapi karena sejak awal sudah tidak memenuhi standar teknis.

Di atas kertas, lomba sekolah selalu bicara tentang indikator: fasilitas, lingkungan, perpustakaan, UKS, dan estetika. Tapi di Babbanulo, indikator itu seperti daftar upgrade motor yang belum pernah dikirim dari pabrik.

Pepohonan rindang? Masih masuk kategori “optional DLC”.
Ruang UKS terpisah? Masih dalam status “coming soon update 2026–tak pasti”.
Perpustakaan ideal? Masih satu ruangan dengan suara rapat guru dan langkah siswa.

Ironinya, penilaian tetap jalan seperti race control tidak pernah melihat kondisi paddock.

“Untuk juara itu hampir mustahil,” kata Hj. Ramlia, dengan tenang, seperti tim principal yang sudah tahu hasil race sebelum start.

Yang bisa dilakukan sekolah ini hanya satu: ikut start. Seperti pembalap backmarker yang tetap masuk grid meski tahu akan disalip satu per satu.

Namun di dunia pendidikan, tidak ada istilah DNF (Did Not Finish). Semua tetap harus “finish”, meski kadang dengan kondisi yang jauh dari ideal.

Di Babbanulo, anak-anak tetap belajar. Guru tetap mengajar. Administrasi tetap berjalan. Semua dilakukan dalam satu ruang yang sama—seperti balapan yang semua sesi FP1, FP2, kualifikasi, dan race dilakukan di lintasan yang sama, tanpa pindah paddock.

Kalau pemerintah adalah race organizer, maka Babbanulo ini sudah lama menunggu “safety car” berupa pembangunan ruang kelas baru. Tapi sampai sekarang, yang datang baru “virtual promise board”—papan janji yang kadang muncul saat kunjungan, lalu hilang saat musim anggaran berganti.

Hj. Ramlia berharap ada perubahan nyata. Bukan lagi sekadar “briefing sebelum lomba”, tapi benar-benar pembangunan yang memisahkan fungsi ruang seperti tim balap modern memisahkan data telemetri, mekanik, dan rider briefing.

“Harapan kami sederhana. Anak-anak ini butuh ruang yang layak supaya bisa bersaing,” katanya.

Sederhana, tapi di lapangan terasa seperti permintaan upgrade dari motor standar ke spek pabrikan—yang entah kapan masuk daftar prioritas.

Di luar ruangan itu, tidak ada kemewahan visual pendidikan modern. Tidak ada perpustakaan dengan rak tinggi atau UKS dengan ruang steril. Yang ada hanya satu ruang yang menampung semua fungsi, seperti sirkuit kecil yang dipaksa jadi tuan rumah semua kelas balap.

Namun justru di situ letak ironi paling tajam.

Bahwa pendidikan sering diminta “bersaing global”, tapi sebagian sekolah masih hidup di level “local track tanpa pit building”.

Seperti balapan tanpa pit stop, semua harus bertahan sampai akhir dengan kondisi yang sama sejak start. Tidak ada ganti ban, tidak ada setting ulang, tidak ada upgrade di tengah race.

Dan ketika lomba selesai, selalu ada satu kalimat yang sama dari sistem: evaluasi.

Padahal di Babbanulo, yang lebih dibutuhkan bukan evaluasi, tapi perluasan lintasan.

Sebab tidak semua keterlambatan adalah soal kemampuan. Kadang, itu hanya soal tidak pernah diberi motor yang seharusnya mereka pakai sejak awal.(*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita