Jerez — Di Sirkuit Jerez, Sabtu (25/4/2026), dua nama dari Asia Tenggara menghadirkan cerita berbeda dalam kualifikasi Moto3 Spanyol. Satu mulai naik diam-diam. Satu lagi sempat melonjak, lalu jatuh.

Hakim Danish finis di posisi ke-10. Tidak heboh. Tidak jadi sorotan utama. Tapi justru di situlah letak bahayanya—ia stabil.

Sementara itu, Veda Ega Pratama? Ceritanya lebih dramatis.

Veda sempat di atas. Bahkan sempat memimpin di awal Q2. Tapi Moto3 itu kejam—bukan soal siapa tercepat sesaat, tapi siapa yang bertahan sampai detik terakhir.

Dan Veda tidak bertahan.

Ia turun. Terus turun. Hingga akhirnya berhenti di posisi ke-17.

Di depan, nama-nama seperti Maximo Quiles, David Munoz, dan Alvaro Carpe mengunci barisan depan. Itu biasa.

Yang tidak biasa, justru di tengah.

Hakim Danish di P10. Tepat di batas sepuluh besar. Posisi yang sering dianggap “tanggung”—tapi justru paling strategis.

Kenapa?

Karena di Moto3, start dari P10 itu bukan akhir. Itu pintu masuk ke rombongan depan. Satu start bagus, satu slipstream tepat, bisa langsung lompat ke lima besar.

Dan Hakim ada di situ.

Berbeda dengan Veda. Start dari P17 berarti ia harus bertarung lebih keras sejak awal. Harus berani ambil risiko. Harus siap masuk duel sejak tikungan pertama.

Ini bukan soal kalah cepat. Ini soal posisi tempur.

Hakim Danish akan start dengan peluang “bersih”—tidak terlalu padat, tidak terlalu jauh. Sementara Veda akan memulai dari kerumunan, di mana satu kesalahan kecil bisa habis.

Tapi di situlah menariknya Moto3.

Yang di depan belum tentu menang. Yang di tengah bisa tiba-tiba muncul. Dan yang di belakang—kalau nekat—bisa bikin kejutan.

Jerez belum selesai.

Dan cerita dua pembalap Asia Tenggara ini baru saja mulai.(*)

Pemimpin Redaksi
Mengawal kualitas, arah pemberitaan, dan independensi redaksi