Sidrap, katasulsel.com — Arus kedatangan anggota Komunitas Tani Sulawesi Selatan (KTSS) ke Passeno, Baranti, terus mengalir. Sabtu sore, 25 April 2026, suasana di Villa H. Zulkifli Zain—atau H. Pilli—sudah mulai ramai.
Yang datang bukan sekadar hadir.
Mereka membawa pengalaman. Termasuk satu “topik panas” yang dipastikan jadi bahan diskusi utama besok: IP 300.
Bagi petani Sidrap, IP 300 bukan lagi jargon.
Ini sudah jadi praktik.
Intensitas tanam tiga kali setahun itu perlahan berubah dari target program menjadi “kebiasaan baru” di sejumlah sentra produksi. Air diatur ketat, varietas dipilih cepat panen, pola tanam disusun hampir tanpa jeda.
Bahasa lapangannya: habis panen, langsung olah—tidak ada waktu sawah “tidur”.
Ketua KTSS, Mustamang, menegaskan bahwa capaian IP 300 inilah yang akan diangkat dalam milad satu dekade KTSS.
“Ini bukan teori. Teman-teman di Sidrap sudah buktikan. Tapi memang tantangannya besar, terutama di pengendalian OPT seperti penggerek batang,” ujarnya.
Di sinilah letak “dua sisi mata uang”.
IP 300 memang mendongkrak produksi. Tapi di saat yang sama, juga membuka peluang ledakan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Siklus tanam yang rapat membuat hama tidak punya “masa putus”. Mereka ikut beradaptasi.
Petani menyebutnya: “hama ikut panen juga”.

Penggerek batang jadi contoh paling nyata. Dalam sistem IP 300, jika pengendalian lengah satu musim saja, efeknya bisa berantai ke musim berikutnya.
Hasilnya: padi tampak normal, tapi bulir kosong—yang di lapangan dikenal sebagai “puso diam-diam”.
Karena itu, forum besok bukan sekadar perayaan.
Ini semacam “kelas lapang besar”.
Sekitar 250 anggota KTSS bersama para ahli pertanian akan membedah satu hal krusial: bagaimana menjaga IP 300 tetap jalan, tapi tanpa dikalahkan hama.
Mulai dari rotasi varietas, penggunaan agen hayati, hingga pola tanam serempak akan jadi bahan diskusi.
Semua berbasis pengalaman nyata petani Sidrap.
Tidak mengawang.
KTSS bahkan menyiapkan penghargaan khusus bagi anggota yang konsisten menerapkan IP 300 dengan hasil optimal.
Ini bukan sekadar seremoni simbolik.
Tapi bentuk pengakuan bahwa petani mampu naik kelas—dari sekadar penggarap menjadi “manajer produksi”.
Pembina KTSS, H. Pilli, juga menyebut kehadiran Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, sangat mungkin terjadi.
Kalau itu terwujud, maka Sidrap akan menunjukkan satu pesan kuat:
IP 300 bukan lagi program pemerintah semata.
Tapi sudah menjadi gerakan petani di Sulawesi Selatan.
Dan Sidrap, perlahan tapi pasti, sedang mengukuhkan diri sebagai “laboratorium hidup” pertanian Sulsel.
Di Baranti, cerita itu mulai terkumpul.
Dari petani ke petani.
Dari sawah ke forum.
Bersambung…
