SIDRAP, katasulsel.com — Ibadah haji ternyata bukan cuma soal panggilan hati. Di Sidrap, pesan itu digaungkan keras: niat harus dibarengi strategi.

Lewat kegiatan Gema Haji Sidrap 2026, Bank Sulselbar tampil di garis depan, mendorong masyarakat untuk mulai merancang perjalanan spiritual sejak dini—bahkan sebelum angka di rekening terasa “cukup”.

Kegiatan yang digelar di Aula Saromase, Kompleks SKPD Sidrap, Kamis (23/4/2026), ini menjadi magnet edukasi. Bukan sekadar sosialisasi biasa, tapi semacam “kelas cepat” memahami realita berhaji di Indonesia.

Salah satu fakta yang bikin banyak peserta terdiam: masa tunggu haji di Sidrap sudah menyentuh angka sekitar 26 tahun.

Artinya, kalau daftar hari ini, belum tentu berangkat sebelum rambut memutih.

Di sinilah istilah dalam dunia haji mulai digaungkan: istitha’ah maliyah—kemampuan finansial yang bukan soal kaya, tapi soal kesiapan.

Direktur Pemasaran & Syariah Bank Sulselbar, Dirhamsyah Kadir, menyebut banyak orang masih terjebak pola pikir lama.

Menunggu mapan. Menunggu “lebih siap”.

Padahal, waktu terus berjalan.

“Ibadah haji itu bukan soal nanti kalau mampu. Tapi bagaimana kita mempersiapkan diri agar mampu,” ujarnya.

Ia bahkan menyentil kebiasaan klasik: menabung dari sisa.

Menurutnya, justru itu yang keliru.

“Haji itu bukan dari sisa. Tapi dari yang disisihkan secara konsisten,” tegasnya.

Di forum itu, peserta diajak memahami bagaimana dana haji dikelola secara transparan oleh negara melalui Badan Pengelola Keuangan Haji, sekaligus mengenal jalur pendaftaran yang kerap dianggap rumit, padahal sebenarnya terstruktur.

Yang menarik, suasana kegiatan terasa cair.

Bukan forum kaku penuh istilah berat, tapi lebih seperti obrolan masa depan: kapan berangkat, bagaimana caranya, dan apa yang harus disiapkan dari sekarang.

Di sisi lain, data yang dipaparkan juga cukup mencengangkan.

Sepanjang 2025, Bank Sulselbar Cabang Sidrap berhasil menghimpun lebih dari 1.100 pendaftar haji. Hingga April 2026, angka itu sudah menembus 780 orang.

Angka yang menunjukkan satu hal: kesadaran mulai tumbuh.

Gema Haji ini pun bukan sekadar acara seremonial.

Ia menjadi pengingat halus—bahwa perjalanan ke Tanah Suci bukan sesuatu yang instan.

Ada proses panjang di belakangnya.

Mulai dari niat, disiplin finansial, hingga kesabaran menunggu antrean.

Di Sidrap, pesan itu kini mulai mengakar:

Haji bukan mimpi jauh. Tapi rencana yang harus dimulai hari ini.(*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita