Spanyol — Ini bukan sekadar soal kalah cepat. Ini soal satu hal yang sering tak terlihat di layar TV: main angin.
Di Moto3, kecepatan bukan cuma soal buka gas. Tapi soal siapa yang dapat slipstream—tarikan angin dari pembalap di depan saat flying lap.
Dan di Jerez, Veda Ega Pratama seperti “sendirian di trek”.
Awalnya, semua terlihat normal. Bahkan menjanjikan. Veda sempat nge-push di awal sesi, menunjukkan race pace yang cukup kompetitif. Tapi saat masuk fase krusial—time attack—ia kehilangan satu elemen penting:
Tow.
Sementara pembalap lain mulai “bermain strategi”—saling menunggu, mencari ekor, bahkan sengaja memperlambat di tikungan untuk dapat slipstream—Veda justru sering mencatat flying lap tanpa bantuan angin.
Hasilnya terasa.
Top speed kalah sedikit. Akselerasi di straight kurang “nendang”. Dan di Moto3, itu cukup untuk membuat selisih 0,2 detik—yang berarti gagal masuk Q2.
Di sisi lain, Brian Uriarte bermain lebih cerdas.
Ia tidak sekadar cepat. Ia tahu kapan harus “nempel”. Kapan harus towing. Kapan harus menyerang. Hasilnya? Posisi 7 dan tiket aman ke Q2.
Ini yang menarik:
Veda sebenarnya tidak kalah skill. Bahkan di sektor teknis, ia cukup kompetitif. Tapi di Jerez, balapan berubah jadi “permainan catur”.
Bukan siapa paling berani buka gas.
Tapi siapa paling pintar membaca situasi lintasan.
Apalagi Veda sempat mengalami chatter—getaran di sektor cepat—yang membuatnya tidak bisa full throttle dengan percaya diri. Ditambah kehilangan waktu di sektor 2, kombinasi ini jadi paket lengkap yang “mengunci” posisinya di P16.
Dan di Moto3, posisi 16 itu seperti garis tipis:
Sedikit lebih cepat → Q2
Sedikit terlambat → Q1
Veda jatuh di sisi yang salah.
Namun ada sisi unik yang justru menarik:
Ini pertama kalinya “The Rookie Boy” benar-benar dipaksa bermain dari bawah.
Tidak ada jalur instan ke Q2.
Tidak ada zona nyaman.
