Jerez, katasulsel.com — Di dunia balap motor, ada satu istilah yang sering jadi momok para pembalap: feeling. Bukan sekadar rasa percaya diri, tapi koneksi antara pembalap, motor, dan lintasan. Dan di Circuito de Jerez-Ángel Nieto, feeling itu seperti teka-teki yang belum berhasil dipecahkan oleh Veda Ega Pratama.

Sirkuit sepanjang 4,4 kilometer ini bukan trek biasa. Ini bukan tempat untuk sekadar “gas pol” di lintasan lurus. Jerez adalah arena presisi—tempat di mana braking point, corner speed, dan throttle control jadi penentu hidup-mati satu lap.

Dan di sinilah cerita Veda berubah menjadi semacam drama teknis.

Pagi itu, dalam sesi FP1 Moto3 Spanyol 2026, Veda seperti kehilangan arah. Bukan karena tak tahu racing line, tapi karena motornya belum “ngobrol” dengan baik.

Istilah paddock-nya: setup belum klik.

Ia hanya mampu mencatatkan waktu 1 menit 46,808 detik. Posisi? P24.

Tertinggal hampir dua detik dari yang tercepat—jurang yang terasa sangat dalam di kelas Moto3, di mana selisih sepersekian detik saja bisa mengubah segalanya.

Masalahnya bukan di satu titik.

Mulai dari front-end feeling yang kurang menggigit, hingga gejala chatter di sektor cepat—getaran kecil yang bisa merusak kepercayaan diri saat membuka gas penuh.

Di tikungan 6, salah satu titik krusial Jerez, Veda terlihat ragu. Terlambat sedikit dalam pengereman, terlalu hati-hati saat corner entry.

Dan di Moto3, ragu berarti kalah.

“Saya sangat kesulitan dengan feeling motor,” katanya singkat.

Kalimat sederhana, tapi di dunia balap, itu bisa berarti banyak hal.

Namun balapan bukan soal satu sesi.

Masuk sesi practice sore, tim Honda Team Asia mulai memainkan kartu mereka. Perubahan dilakukan—halus, tapi signifikan.

Mengawal akurasi dan kedalaman berita