Mulai dari penyesuaian suspensi, distribusi bobot, hingga mapping throttle.
Hasilnya?
Langsung terasa.
Veda seperti menemukan kembali ritmenya. Cornering speed meningkat, braking lebih presisi, dan yang paling penting—kepercayaan diri kembali.
Ia memangkas waktu hampir dua detik.
Dari 1:46 ke 1:44.
Lonjakan besar.
Posisinya naik ke P16.
Masih di luar zona aman Q2, tapi arah sudah benar.
Dalam istilah balap: finally on the right setup window.
Namun di Moto3, berada di jalur yang benar saja belum cukup.
Anda harus sempurna.
Dan Veda mengakui, perfect lap itu belum datang.
“Saya belum mencetak lap sempurna. Masih ada potensi,” ujarnya.
Masalahnya sekarang bukan sekadar kecepatan.
Tapi eksekusi.
Di sesi time attack, faktor seperti slipstream jadi krusial. Tanpa “towing” dari pembalap lain, kehilangan 0,2 detik bisa jadi hal biasa.
Dan di Jerez, selisih 0,2 detik itu adalah batas antara Q2… atau Q1.
Veda kalah tipis.
Sangat tipis.
Ia harus memulai dari Q1—jalur yang lebih panjang, lebih berisiko, dan penuh traffic.
