Di Q1, bukan cuma soal cepat.
Tapi soal strategi.
Memilih momen keluar pit, mencari slipstream, menghindari bendera kuning, dan tentu saja—tidak terjebak rombongan.
Ini seperti balapan sebelum balapan.
Dan hanya empat pembalap yang bisa lolos ke Q2.
Sementara itu, cerita berbeda datang dari rekan senegaranya.
Mario Suryo Aji justru tampil seperti pembalap yang sudah “klik” sejak awal.
Di kelas Moto2, ia memang sempat kesulitan di FP1 karena suhu trek dingin—low grip condition yang bikin ban sulit bekerja optimal.
Namun berbeda dengan Veda, Mario tidak banyak mengubah motor.
Ia hanya menyempurnakan.
Dan itu cukup.
Di sesi practice, ia langsung melesat ke posisi 8 besar.
Tiket Q2 diamankan.
Tanpa drama.
Tanpa harus melewati Q1.
Dalam dunia balap, ini disebut: clean weekend start.
Mario bermain rapi. Race pace stabil, line konsisten, dan mampu membaca kondisi lintasan dengan baik.
Ia juga cerdas memanfaatkan slipstream—mengikuti pembalap lain untuk mendapatkan keuntungan aerodinamika.
“Saya hanya fokus melakukan pekerjaan saya di lintasan,” katanya.
Kalimat klasik, tapi efektif.
Di balik itu, ada satu faktor penting: kondisi fisik.
