Jerez, Katasulsel.com – Ini bukan sekadar balapan. Ini comeback mode.

Veda Ega Pratama menunjukkan racecraft kelas atas saat tampil di Moto3 Spanyol 2026 di Sirkuit Jerez-Angel Nieto, Minggu (26/4/2026).

Start dari posisi ke-17—posisi yang biasanya bikin pembalap “terjebak traffic”—Veda justru tampil agresif sejak lampu start padam. Launch-nya bersih, braking point presisi, dan momentum langsung terjaga di lap awal.

Drama langsung terjadi.

Belum genap beberapa tikungan, Matteo Bertelle dari tim Level Up-MTA terjatuh. Insiden ini bikin rombongan belakang sedikit chaos, tapi Veda justru memanfaatkan situasi dengan cerdas. Tanpa banyak buang waktu, ia mulai menyodok satu per satu rivalnya.

Lap 2, posisinya sudah di P12.

Dari situ, mode “time attack” berubah jadi “race management.” Veda mulai bermain di slipstream, menjaga racing line tetap rapi, dan memaksimalkan exit corner—kunci di Jerez yang teknikal.

Di depan, Maximo Quiles masih memimpin. Murid Marc Marquez itu ditempel ketat oleh David Muñoz dan Alvaro Carpe.

Masuk lap 3, momen deja vu Red Bull Rookies Cup terasa.

Brian Uriarte, Hakim Danish, dan Veda berada dalam satu paket—posisi 8 hingga 10. Tiga pembalap muda Asia-Eropa ini saling “adu nyali” di sektor cepat.

Di sinilah mental diuji.

Bukan sekadar cepat, tapi siapa yang paling berani buka gas lebih awal, siapa yang paling telat mengerem tanpa kehilangan grip depan.

Dan Veda? Dia tidak ragu.

Overtake demi overtake dilakukan. Late braking di tikungan dalam, switch line di sektor teknikal, hingga memanfaatkan slipstream di trek lurus—semua paket lengkap.

Puncaknya, Veda sempat menembus posisi 5 besar.

Ya, dari P17 ke P5. Lonjakan yang bukan kebetulan.

Meski akhirnya harus puas mengamankan posisi ke-6, performa ini jadi sinyal kuat: Veda bukan sekadar rookie. Dia kompetitor.

Di kelas Moto3 yang terkenal “rombang satu grup”—di mana 10 pembalap bisa finish dalam selisih kurang dari 2 detik—konsistensi dan keberanian jadi pembeda.

Dan Veda menunjukkan dua-duanya.

Balapan ini juga membuktikan satu hal: grid position penting, tapi bukan segalanya. Dengan race pace yang solid, strategi slipstream yang tepat, dan insting overtake yang tajam, posisi belakang bisa berubah jadi ancaman nyata di depan.

Jerez jadi saksi.

Dari barisan tengah, seorang anak muda dari Gunungkidul melesat, menyalip, dan hampir mencuri panggung.

Ini belum akhir.

Ini baru pemanasan. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita