Sidrap, katasulsel.com — Manasik haji tak lagi sekadar duduk, dengar, lalu pulang. Di Masjid Al Khairat Baranti, Minggu, (26/4/2026), suasananya dibuat beda. Lebih hidup. Lebih “berasa Tanah Suci”.
PT An Nabaa bersama PT Almarhamah Cahaya Utama meramu manasik haji khusus 2026 ini dengan pendekatan yang bisa disebut “end to end journey”.
Jamaah tidak hanya diberi teori, tapi diajak membayangkan bahkan merasakan alur ibadah—dari Mina sampai Mekkah.
Sejak pagi, “ritme haji” sudah terasa. Sesi awal langsung mengupas fase krusial: hari-hari di Mina. Ustaz Dr. H. Azhar Burhanuddin membedah amalan hari Tasyriq—fase yang sering disebut sebagai “puncak kepadatan ibadah”.
Lempar jumrah, mabit, hingga amalan sunnah dijelaskan detail, termasuk trik menghadapi kondisi lapangan yang real: padat, panas, dan penuh dinamika.
Dalam istilah dunia haji, ini fase “high pressure zone”. Jamaah dituntut tidak hanya paham fiqih, tapi juga punya “manajemen energi” dan kesabaran ekstra.
Masuk sesi berikutnya, arah manasik bergeser ke Mekkah. AGH KH Asri Kasman mengupas “ibadah prioritas”—mulai dari tawaf, salat di Masjidil Haram, tadarus, hingga tawaf wada’.
Ini yang sering disebut sebagai fase “peak spiritual moment”, ketika jamaah memaksimalkan ibadah di titik paling sakral.
Materinya tidak normatif. Lebih ke “practical guidance”. Jamaah diajak memahami skenario nyata: kapan waktu ideal tawaf, bagaimana mengatur ritme ibadah agar tidak kelelahan, hingga strategi menjaga kekhusyukan di tengah lautan manusia.
Yang menarik, manasik ini tidak kaku. Dipandu Ustaz H. Asyraf Burhanuddin, suasana dibuat interaktif. Ada sesi tanya jawab, ada doorprize.
Tapi ini bukan sekadar gimmick. Ini bagian dari metode “engagement learning”—cara agar jamaah benar-benar menyerap materi, bukan sekadar mendengar.
Hasilnya terlihat. Jamaah aktif. Responsif. Bahkan beberapa sudah mulai menggunakan istilah khas dunia haji seperti “mabit”, “nafar awal”, hingga “slot waktu tawaf”.
“Ini bukan lagi manasik biasa. Ini seperti simulasi perjalanan haji,” ujar salah satu peserta.
Di balik itu, ada efek lain yang tak kalah penting: terbentuknya “ukhuwah kloter”. Jamaah mulai saling mengenal, membangun chemistry, yang nantinya jadi modal penting saat di Tanah Suci.
Dalam dunia penyelenggaraan haji, ini sering disebut “building jamaah bonding”—ikatan emosional yang membuat perjalanan lebih solid dan minim konflik.
Manasik seperti ini menjadi fondasi. Bukan hanya soal sah atau tidaknya ibadah, tapi soal kesiapan total: ilmu, fisik, mental, hingga spiritual.
Dari Baranti, perjalanan itu dimulai.
Niat diluruskan, skenario dipahami, dan hati dipanaskan. Karena di Tanah Suci nanti, yang berjalan bukan hanya kaki—tapi juga kesabaran, keikhlasan, dan ketahanan diri menuju satu target besar: haji mabrur.(*)
