Sidrap, katasulsel.com — Dapur rumah tangga di Kabupaten Sidenreng Rappang mulai terasa makin panas. Bukan semata karena kompor menyala, tetapi karena harga minyak goreng yang melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir.

Minyak goreng merek Minyak Kita yang sebelumnya dijual sekitar Rp36 ribu per dua liter, kini naik menjadi Rp41 ribu per dua liter. Kenaikan Rp5 ribu itu mungkin tampak kecil di atas kertas, namun cukup besar bagi keluarga yang harus berhitung setiap hari.

Di pasar dan kios-kios kecil, perubahan harga ini cepat menyebar dari mulut ke mulut. Para ibu rumah tangga yang biasanya datang membawa daftar belanja, kini datang sambil membawa kalkulator di kepala.

Menru (30), seorang ibu rumah tangga di Amparita, mengaku terkejut saat mengetahui harga minyak goreng kembali naik. Menurutnya, hampir semua jenis minyak goreng mengalami kenaikan.

“Kalau begini terus, belanja bulanan pasti membengkak. Mau tidak mau harus kurangi belanja lain,” ujarnya.

Keluhan seperti itu kini mulai sering terdengar. Sebab minyak goreng bukan barang mewah. Ia kebutuhan harian yang hampir selalu hadir di dapur: menggoreng ikan, telur, tempe, hingga membuat camilan anak-anak. Ketika harganya naik, yang ikut goyah adalah ritme ekonomi keluarga kecil.

Pedagang juga merasakan tekanan. Mereka berada di posisi serba salah. Jika harga dinaikkan, pembeli mengeluh. Jika ditahan, keuntungan menipis.

Kenaikan harga minyak goreng biasanya dipengaruhi banyak faktor, mulai dari distribusi, pasokan, harga bahan baku sawit, hingga dinamika pasar nasional.

Namun bagi warga kecil, penyebab kadang tak terlalu penting. Yang terasa hanyalah isi dompet yang makin cepat tipis.

Di Sidrap, kabupaten yang dikenal sebagai lumbung pangan, kenaikan harga kebutuhan pokok selalu menjadi perhatian serius. Sebab ketika harga dapur mulai menanjak, daya beli masyarakat ikut teruji.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan melakukan pemantauan pasar dan memastikan pasokan tetap tersedia.

Karena bagi masyarakat, kestabilan harga jauh lebih menenangkan daripada janji-janji panjang.

Hari ini minyak goreng naik. Besok bisa jadi kebutuhan lain ikut menyusul. Dan di tengah kondisi seperti itu, rakyat kecil selalu menjadi pihak pertama yang paling cepat merasakan dampaknya. (*)

Merangkai data dan peristiwa menjadi narasi yang hidup dan informatif