Sidrap, Katasulsel.com — Kabupaten Sidenreng Rappang atau Sidrap dikenal sebagai salah satu daerah agraris terpenting di Sulawesi Selatan.
Wilayah ini memiliki peran besar dalam sektor pangan, budaya, hingga energi modern. Tidak heran jika Sidrap memiliki sejumlah julukan yang melekat kuat di tengah masyarakat.
Saat ini, Sidrap dipimpin Bupati Syaharuddin Alrif, yang terus mendorong pembangunan berbasis pertanian, ekonomi kerakyatan, dan modernisasi daerah. Di bawah kepemimpinannya, identitas Sidrap sebagai daerah produktif semakin menonjol.
Berikut empat julukan yang paling dikenal bagi Kabupaten Sidrap.
Pertama, Bumi Nene’ Mallomo.
Julukan resmi ini mencerminkan akar sejarah dan budaya masyarakat Bugis di Sidrap. Nene’ Mallomo dikenal sebagai tokoh bijak yang menjunjung tinggi keadilan, kejujuran, dan kearifan adat. Nama itu menjadi simbol moral dan kebanggaan masyarakat Sidrap hingga kini.
Kedua, Kota Beras.
Sidrap dikenal luas sebagai salah satu sentra produksi beras terbesar di Sulawesi Selatan. Hasil panen dari daerah ini menyuplai berbagai wilayah, termasuk kawasan timur Indonesia. Karena itulah, julukan Kota Beras sangat melekat.
Ketiga, Lumbung Pangan Sulsel.
Selain beras, Sidrap juga menjadi daerah penting dalam mendukung ketahanan pangan regional. Sektor pertanian yang maju, lahan sawah luas, dan produktivitas tinggi membuat Sidrap disebut sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan.
Keempat, Negeri Kincir Angin.
Julukan ini lahir dari keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sidrap. Deretan turbin angin raksasa menjadi ikon modern yang membuat nama Sidrap dikenal secara nasional sebagai daerah penghasil energi terbarukan.
Empat julukan tersebut menunjukkan bahwa Sidrap bukan hanya daerah pertanian biasa. Daerah ini memiliki kekuatan budaya, peran strategis di sektor pangan, serta wajah modern dalam pembangunan energi.
Jika dulu dikenal karena sawahnya, kini Sidrap juga dikenal karena kemampuannya bergerak maju tanpa meninggalkan akar tradisi (*)
