Sidrap, Katasulsel.com – Forum Rapat Anggota Komisariat (RAK) ke-XII Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat STAI DDI Sidrap berlangsung tanpa “tikungan tajam”. Tak ada drama voting, tak ada manuver last lap. Rachman melenggang mulus, menang aklamasi, dan resmi mengunci posisi sebagai Formature/Ketua Umum.

Forum yang digelar di Sekretariat HMI Cabang Sidrap, Jalan Andi Makkassau, Minggu, (26/4/2026), terasa seperti balapan yang sudah “clear racing line”. Sejak awal, dukungan kader mengalir deras. Tak ada slipstream dari kandidat lain. Semua langsung satu arah: Rachman.

Momentum ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ini seperti pergantian rider di pit stop—strategis, cepat, dan menentukan arah tim ke depan.

Dalam sambutannya, Rachman tidak ingin sekadar jadi “pembalap papan tengah”. Ia ingin membawa organisasi ini kembali ke grid terdepan.

“Ini bukan hanya tentang posisi, tapi amanah. Kita harus kembalikan marwah organisasi sebagai kekuatan moral dan intelektual yang progresif,” tegasnya.

Kalimat itu seperti radio tim di tengah race: jelas, tegas, dan penuh arah.

Rachman juga menyinggung soal pentingnya “setup” organisasi—kalau di dunia balap, ini soal keseimbangan antara mesin, grip ban, dan strategi. Dalam konteks HMI, itu berarti kaderisasi dan tradisi intelektual.

Tanpa dua hal itu, organisasi hanya akan jadi “motor kencang tapi liar”—cepat, tapi tak terarah.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Sidrap, Faiz Ansarullah, memberi sinyal dukungan penuh. Ia seperti race director yang memastikan balapan tetap fair dan kompetitif.

“Kami berharap kepemimpinan baru mampu menjaga semangat kaderisasi, memperkuat tradisi intelektual, dan tetap independen,” ujarnya.

Ia menegaskan, komisariat adalah “mesin utama” HMI. Kalau mesin ini mati, jangan harap bisa finish di podium.

Di balik suasana yang tampak mulus, sebenarnya tantangan ke depan tidak ringan. Dunia mahasiswa hari ini bukan lagi trek lurus. Ini sirkuit penuh chicane—isu sosial, dinamika kampus, hingga arus digital yang tak bisa dihindari.

Rachman harus pintar membaca racing line. Salah ambil tikungan, bisa keluar lintasan.

Para kader pun menyambut hasil ini dengan optimisme. Mereka melihat Rachman sebagai rider muda yang punya potensi—agresif, tapi tetap terukur.

Harapan mereka sederhana: organisasi lebih solid, lebih hidup, dan lebih terasa dampaknya di tengah masyarakat.

RAK XII ini bukan sekadar agenda rutin. Ini seperti sesi kualifikasi yang menentukan posisi start untuk satu periode ke depan. Dan Rachman sudah mengamankan pole position.

Tinggal bagaimana ia menjaga ritme, mengatur strategi, dan bertahan dari tekanan lap demi lap.

Karena dalam organisasi, seperti halnya balapan, yang dihitung bukan cuma start yang bagus—tapi siapa yang bisa finish dengan kepala tegak.

Dan hari ini, mesin sudah dinyalakan. Tinggal tunggu, apakah Rachman bisa benar-benar “gaspol” sampai garis akhir… atau justru kehabisan bensin di tengah jalan. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita