Barru, katasulsel.com — Di tengah arus modernisasi, masyarakat Dusun Birue, Desa Siawung, Kecamatan Barru justru menunjukkan arah berbeda: menjaga akar, merawat identitas. Lewat Pesta Panen Adat Paenge Ma’jimpo-jimpo, budaya tidak hanya dipertahankan—tapi diangkat ke panggung yang lebih besar.
Kehadiran Wakil Bupati Barru, Abustan A. Bintang, mewakili Bupati Andi Ina Kartika Sari, menjadi sinyal kuat bahwa tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah simbol kekuatan daerah yang kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Tak hanya warga lokal, masyarakat dari Parepare, Soppeng, Luwu, hingga Pangkep ikut hadir. Ini bukan lagi pesta desa—ini magnet budaya lintas daerah.
Dalam sambutannya, Abustan menegaskan satu hal: budaya adalah fondasi, bukan pelengkap. Ia mengingatkan bahwa di balik kemeriahan tradisi, ada sejarah panjang perjuangan masyarakat—dari wilayah tandus hingga menjadi kawasan yang hidup berkat sumber air.
Pesan yang disampaikan pun tajam: jika lingkungan rusak, budaya ikut terancam. Pohon hilang, air hilang, kehidupan pun terancam. Karena itu, pelestarian tradisi harus berjalan seiring dengan menjaga alam.
Namun, langkah Barru tidak berhenti pada pelestarian. Pemerintah daerah mulai mendorong agar Pesta Adat Paenge masuk dalam kalender resmi pariwisata. Targetnya jelas—mengubah tradisi menjadi kekuatan ekonomi tanpa kehilangan makna.
Momen paling cair terjadi saat Abustan menyinggung tradisi “dibasahi”—ritual simbol keberkahan yang menjadi ciri khas acara. Dengan nada santai, ia menyebut Bupati pun siap mengikuti tradisi tersebut, memicu tawa sekaligus mempererat kedekatan dengan masyarakat.
Di balik suasana hangat itu, tersimpan pesan serius: budaya seperti makan bersama, busana adat, hingga ritual Mappadendang bukan sekadar simbol, tapi perekat sosial yang menjaga kebersamaan.
Penyerahan sertifikat resmi WBTb kepada pemangku adat menjadi penegasan bahwa tradisi ini telah melewati proses panjang dan kini diakui secara nasional. Pesta Adat Paenge pun tercatat sebagai warisan budaya kelima Barru, menyusul Marakka Bola, Tari Sere Api, Massure, dan Mattojang.
Pesan penutup Abustan menjadi garis bawah dari seluruh rangkaian acara:
budaya bukan untuk dikenang, tapi untuk terus dihidupkan.
Di Barru, panen bukan sekadar hasil sawah—tapi tentang menjaga cerita, merawat identitas, dan memastikan warisan leluhur tetap berdiri di tengah perubahan zaman.(*)
