Pinrang, katasulsel.com – Di tengah geliat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kabupaten Pinrang mulai menunjukkan arah baru dalam membangun kemandirian pangan. Bukan sekadar menjadi daerah penyalur bahan baku, Pinrang kini mulai menanam sendiri kebutuhan dapur MBG dari lahan-lahan desa.

Sebuah langkah yang lahir dari pertanyaan sederhana namun penuh makna: kalau bisa tanam sendiri, mengapa harus mendatangkan dari luar?

Pertanyaan itulah yang kini perlahan dijawab melalui kolaborasi antara Satgas MBG Pinrang, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN), pemerintah desa, serta mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Hasilnya mulai terlihat di Desa Kaballangan, Kecamatan Duampanua.

Dari tujuh bedeng sederhana yang ditanami bawang merah, petani lokal berhasil memanen 218 kilogram bawang merah grade A. Seluruh hasil panen itu langsung diserap untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG di wilayah setempat.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Panen perdana tersebut bukan hanya soal hasil pertanian, melainkan simbol bahwa desa mampu menjadi bagian penting dalam rantai pasok pangan nasional.

Selama ini, sebagian kebutuhan bahan baku dapur MBG masih dipasok dari luar daerah. Kondisi itu membuat petani lokal belum sepenuhnya menikmati perputaran ekonomi dari program berskala nasional tersebut.

Berangkat dari kondisi itu, Ketua Satgas MBG Pinrang, Andi Tjalo Kerrang bersama Korwil BGN Pinrang, Nining Angreani, mulai merancang pola pemberdayaan berbasis pertanian lokal.

Mereka menggandeng pemerintah desa dan mitra SPPG untuk membentuk kelompok tani yang secara khusus diarahkan menjadi pemasok kebutuhan dapur MBG.

“Kalau kebutuhan dapur bisa dipenuhi petani lokal, kenapa harus terus bergantung dari luar daerah. Ini yang ingin kami bangun,” ujar Andi Tjalo Kerrang.

Pemerintah Desa Kaballangan kemudian menyiapkan lahan seluas 30 are sebagai lokasi pilot project pertanian bawang merah.

Seorang petani bernama Anwar (56) dipercaya menjalankan penanaman perdana menggunakan 18 kilogram bibit bawang merah.

Tak disangka, hasil panen pertama justru melampaui ekspektasi.

Dari tujuh bedeng sederhana, lahan tersebut menghasilkan 218 kilogram bawang merah dengan kualitas yang dinilai sangat baik.

“Bawangnya besar, padat dan warnanya merah cerah. Ini membuktikan tanah di Pinrang sangat potensial,” kata Anwar.

Ia mengaku sempat ragu saat pertama kali diminta menjalankan proyek tersebut. Namun dukungan dari Satgas MBG, Korwil BGN dan mitra SPPG membuat proses budidaya berjalan maksimal.

Mulai dari penyediaan bibit, pupuk, plastik mulsa hingga pembangunan sumur bor untuk kebutuhan air pertanian, semuanya dilakukan secara gotong royong.

Yang membuat petani semakin bersemangat, hasil panen tidak lagi dipusingkan soal pemasaran. Seluruh bawang merah langsung dibeli oleh SPPG untuk kebutuhan dapur MBG.

“Sekarang kami menanam dengan tenang karena hasilnya sudah ada yang menunggu,” ujarnya.

Korwil BGN Pinrang, Nining Angreani, mengatakan keberhasilan panen perdana tersebut menjadi langkah awal menuju sistem pertanian terpadu berbasis kebutuhan MBG.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menciptakan siklus ekonomi baru di desa.

“Yang kami bangun bukan hanya kebun bawang merah, tetapi ekosistem pangan lokal untuk mendukung MBG,” katanya.

Saat ini, lahan yang awalnya hanya terdiri dari tujuh bedeng telah diperluas dengan penambahan 13 bedeng baru. Pengembangan komoditas lain seperti kangkung, buncis dan semangka juga mulai disiapkan.

Bagi Pinrang, langkah ini menjadi lebih dari sekadar proyek pertanian.

Di balik tunas bawang merah yang tumbuh di Desa Kaballangan, ada harapan tentang desa yang mulai berdiri di atas kekuatannya sendiri. Bahwa kebutuhan pangan tak selalu harus datang dari luar, ketika tanah sendiri masih mampu menumbuhkan kehidupan.(*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita