Soppeng, katasulsel.com — Hamparan sawah di Kelurahan Apanang, Kabupaten Soppeng, tak lagi sekadar menjadi ruang produksi pangan tradisional. Di lokasi itulah Pemerintah Kabupaten Soppeng bersama Kementerian Pertanian RI memulai babak baru modernisasi sektor pangan melalui program Modern Advance Agriculture System (PM-AAS), sebuah konsep pertanian berbasis mekanisasi dan teknologi presisi yang mulai diterapkan secara lebih luas di Sulawesi Selatan.

Pelaksanaan tanam perdana PM-AAS menjadi penanda transformasi pola bertani di Soppeng — dari sistem konvensional menuju pertanian modern yang mengandalkan efisiensi, data, dan mekanisasi lapangan.

Di area persawahan Apanang, berbagai alat modern mulai diperkenalkan kepada petani. Mulai dari mekanisasi tanam, sistem pengolahan lahan modern, hingga penggunaan drone pertanian untuk penyemprotan dan pemantauan lahan. Konsep ini dikenal dalam dunia pertanian modern sebagai smart farming, yakni sistem budidaya yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.

Suwardi Haseng hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa program PM-AAS bukan sekadar seremoni tanam padi, melainkan bagian dari reformasi sistem pertanian di daerah yang selama ini masih menghadapi persoalan klasik.

Menurutnya, petani saat ini berada di tengah tekanan besar akibat perubahan iklim, cuaca yang sulit diprediksi, kenaikan harga pupuk, tingginya ongkos produksi, hingga berkurangnya tenaga kerja sektor pertanian.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

“Teknologi hadir bukan untuk menggantikan petani, tetapi membantu pekerjaan menjadi lebih ringan dan hasil panen semakin meningkat,” ujar Suwardi.

Pernyataan itu mencerminkan arah baru pembangunan pertanian nasional yang mulai menempatkan teknologi sebagai tulang punggung ketahanan pangan. Dalam praktiknya, mekanisasi pertanian mampu mempercepat proses tanam, meningkatkan akurasi distribusi pupuk, hingga menekan potensi kehilangan hasil panen atau losses di lapangan.

Program PM-AAS sendiri bukan proyek instan. Uji coba awal telah dilakukan sejak 2025 di Kecamatan Marioriawa dengan cakupan lahan sekitar lima hektar. Setelah dinilai berhasil, implementasinya kini diperluas menjadi 120 hektar pada 2026, terdiri atas 100 hektar di Kecamatan Liliriaja dan 20 hektar di Marioriawa.

Ekspansi tersebut menjadi indikator bahwa Soppeng mulai diposisikan sebagai salah satu laboratorium pertanian modern di Sulawesi Selatan.

Selain penggunaan alat modern, PM-AAS juga menekankan pola pendampingan intensif melalui penyuluh pertanian. Pemerintah ingin memastikan petani tidak hanya menjadi pengguna alat, tetapi juga memahami sistem budidaya modern secara berkelanjutan, mulai dari pengelolaan lahan, pola tanam, hingga efisiensi penggunaan input produksi.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian RI, Fadjry Jufri, mengatakan Kabupaten Soppeng masuk dalam salah satu daerah prioritas pengembangan pertanian modern di Sulawesi Selatan.

Menurut Fadjry, konsep PM-AAS lahir setelah Kementerian Pertanian melakukan studi dan benchmarking ke sejumlah negara dengan sistem pertanian maju. Dari hasil uji coba awal di Soppeng, produktivitas padi bahkan disebut mampu mencapai 10,4 ton per hektar — angka yang berada di atas rata-rata produksi nasional.

Di Sulawesi Selatan, hanya empat daerah yang mendapat program PM-AAS, yakni Kabupaten Sidenreng Rappang, Kabupaten Bone, Kabupaten Soppeng, dan Kabupaten Maros.

“Kementerian Pertanian berkomitmen memberikan dukungan maksimal agar program ini mampu meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani,” kata Fadjry.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Pertanian turut menyerahkan bantuan benih padi varietas Inpari 48 dan Inpari 32 sebanyak 7,5 ton kepada Pemerintah Kabupaten Soppeng. Sementara PT Pupuk Indonesia juga menyalurkan bantuan pupuk Petroganik untuk mendukung implementasi pertanian modern di daerah tersebut.

Tanam perdana PM-AAS di Apanang dihadiri jajaran Kementerian Pertanian, unsur Forkopimda, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani. Namun lebih dari sekadar seremoni lapangan, agenda ini menjadi simbol perubahan arah pembangunan pangan daerah.

Di tengah ancaman krisis iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional, Soppeng kini mulai bergerak menuju pertanian berbasis teknologi — sebuah langkah yang diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga menjaga keberlanjutan sektor pertanian untuk generasi mendatang.(*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita