Majene, katasulsel.com — Yang menarik dari dinamika kursi Wakil Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) kali ini bukan sekadar siapa yang diusulkan. Tapi bagaimana prosesnya baru benar-benar dimulai dari satu nama.
PKS Sulbar memilih jalur “hemat manuver”. Tidak membuka banyak opsi. Tidak melempar beberapa kandidat sekaligus. Langsung satu: Jalaluddin Syam.
Di politik, ini langkah yang cukup berani.
Karena biasanya, partai menyodorkan lebih dari satu nama untuk membuka ruang negosiasi. Tapi kali ini, PKS justru sebaliknya—mengunci pilihan sejak awal.
Langkah ini bisa dibaca sebagai sinyal kuat: PKS ingin mengendalikan arah sejak titik nol.
Ketua MPW PKS Sulbar, Syamsuddin, menyebut keputusan ini hasil pembahasan internal. Tapi di balik itu, ada pesan yang lebih dalam—partai ingin solid sebelum masuk ke arena yang lebih luas.
Menariknya lagi, satu nama ini belum tentu langsung meluncur mulus.
Karena setelah dari daerah, bola berpindah ke pusat. DPP PKS punya kata akhir. Di titik ini, dinamika bisa berubah.
Belum lagi jika masuk ke DPRD Sulbar. Di sana, bukan hanya soal kelayakan figur, tapi juga peta kekuatan politik antar fraksi.
Artinya, perjalanan satu nama ini masih panjang. Bahkan bisa berubah arah.
Di sisi lain, pilihan terhadap Jalaluddin Syam juga bukan tanpa pesan. Ia bukan figur “luar lingkaran”. Ia kader internal. Artinya, PKS tidak mencari kejutan—tapi memperkuat barisan sendiri.
Langkah ini sekaligus menunjukkan strategi: menjaga kendali tetap di dalam rumah, bukan membuka ruang terlalu lebar ke luar.
Situasi ini juga unik karena terjadi setelah kursi Wagub kosong akibat wafatnya pejabat sebelumnya. Ada faktor waktu, ada tekanan stabilitas pemerintahan, tapi juga ada ruang tarik-menarik kepentingan.
Di titik ini, satu nama bukan akhir. Justru awal.
Karena dalam politik, yang terlihat sederhana sering kali menyimpan proses paling rumit.
Dan untuk kursi Wagub Sulbar, permainan sebenarnya baru saja dimulai. (*)
