Barru , Katasulsel.com — Pagi belum benar-benar terang ketika kabar itu menyebar. Sunyi mendadak berubah jadi duka.

Seorang pemuda berinisial ZF (23) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di bawah pohon, tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Mallawa, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Senin (20/4/2026) sekitar pukul 05.30 Wita.

Peristiwa ini pertama kali diketahui warga, lalu dilaporkan ke pihak kepolisian. Tidak butuh waktu lama, aparat dari Polsek Mallusetasi langsung turun ke lokasi.

Kapolres Barru, Ananda Fauzi Harahap, membenarkan kejadian tersebut.

“Personel langsung ke TKP untuk olah tempat kejadian,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan awal, polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Hanya bekas jeratan tali di leher.

Kesimpulan sementara mengarah pada dugaan bunuh diri.

Namun, di balik kesimpulan itu, ada lapisan cerita yang lebih dalam.

Korban diketahui memiliki riwayat gangguan kejiwaan, yakni skizofrenia. Dalam kesehariannya, ia kerap berbicara sendiri, tertawa tanpa sebab, bahkan mengaku mendengar bisikan.

Catatan medis menunjukkan, ia terakhir menjalani perawatan pada Januari 2026 di RS Andi Makkasau.

Belum selesai di situ.

Tekanan lain juga muncul dari sisi ekonomi.

Korban bekerja sebagai penjaga agen BRILink di dekat rumahnya. Dari hasil pengecekan, ditemukan selisih keuangan yang cukup besar.

Saldo awal sekitar Rp10,7 juta. Saat diperiksa, tersisa sekitar Rp2 juta.

Selisih itu diduga terkait transaksi top up ke aplikasi ShopeePay menggunakan nomor pribadi korban, dengan nilai kerugian mencapai Rp8,7 juta.

Di titik ini, gambaran mulai terbentuk.

Bukan satu masalah.

Tapi kombinasi.

Gangguan psikologis yang belum sepenuhnya stabil, bertemu tekanan ekonomi yang datang tiba-tiba.

Dua beban yang, jika bertemu, bisa menjadi sangat berat.

Pihak kepolisian menduga faktor-faktor tersebut menjadi pemicu korban nekat mengakhiri hidupnya.

Sementara itu, keluarga memilih menerima kejadian ini sebagai musibah. Mereka menolak proses autopsi dan telah membuat pernyataan resmi.

Keputusan itu menutup ruang pemeriksaan lebih lanjut secara medis.

Peristiwa ini kembali mengingatkan satu hal penting: persoalan kesehatan mental dan tekanan ekonomi sering berjalan beriringan.

Namun sering kali, keduanya luput dari perhatian.

Kasus seperti ini bukan hanya soal satu individu.

Tapi cermin bahwa ada persoalan yang lebih luas—yang kadang tidak terlihat, sampai semuanya terlambat.

Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami tekanan berat atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, penting untuk segera mencari bantuan—baik ke keluarga, tenaga medis, maupun layanan konseling terdekat. Anda tidak harus menghadapi semuanya sendiri. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Cluster Barru: Lihat berita Barru