Karena itu, musim ini terasa seperti “musim asing” bagi publik Mattoanging.
PSM tidak lagi tampil garang. Tidak lagi stabil. Bahkan di beberapa pertandingan, mereka terlihat seperti tim yang kehilangan arah.
Kini manajemen dihadapkan pada momentum penting: melakukan reset besar-besaran atau kembali terseret dalam musim yang penuh tambal sulam.
Jika melihat pola satu dekade terakhir, peluang menghadirkan pelatih asing kembali terbuka lebar. Sejak era Assegaf Razak pada 2015, PSM memang lebih sering mempercayakan proyek tim kepada pelatih luar negeri.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Dan publik mulai bertanya: siapa berikutnya?
Apakah manajemen akan mencari sosok keras seperti Bernardo Tavares? Atau pelatih dengan pendekatan taktik modern untuk membangun ulang identitas permainan PSM?
Yang jelas, musim depan bukan sekadar soal bertahan hidup.
Ini soal mengembalikan marwah.
Sebab bagi PSM, bertahan di liga mungkin cukup secara administratif. Tapi bagi suporternya, Juku Eja seharusnya tidak hidup hanya untuk selamat dari degradasi. (*)
Update terbaru: 12 Mei 2026 16:12 WIB
